Ada 2 pendapatku mengenai film ini. Jika melihat dari sisi romantisme, film ini cukup sukses menguras emosi penonton, terutama kaum hawa. Beberapa kaum adam juga bisa dibuat menitikkan air mata. Jika melihat dari sisi agama yang sebenarnya ditonjolkan Hamka di novelnya, di film ini nyaris tidak terlihat. Justru yang menonjol adalah kisah cinta Hamid dan Zainab.

“Kasih tak sampai”, begitulah inti kisah cinta mereka. Alur ceritanya pun simpel: Pria dari keluarga miskin yang jatuh cinta dengan gadis dari keluarga kaya raya yang sudah dijodohkan dengan pria yang juga dari keluarga terpandang.

Walaupun memang ada sedikit bumbu agama di film dimana pada jaman itu pria dan wanita benar-benar menjaga diri dan tidak menyentuh yang bukan muhrim-nya. Hal itu digambarkan dengan adegan dimana Hamid dan Zainab berbincang melalui pagar kayu. Sayangnya, adegan yang seharusnya romantis ini menjadi annoying karena kita dipaksa melihat adegan Hamid dan Zainab tertawa-tawa melalui pagar kayu berulang-ulang -__-“

Yang lebih annoying lagi adalah munculnya produk-produk (yang sepertinya produk-produk sponsor) yang ditampilkan di beberapa adegan dan benar-benar merusak setting film yang sebenarnya sudah bagus. Masa di tahun 1922 sudah ada yang namanya “Chocolatos”, “Kacang Garuda”, dan “Baygon” -__-” Hal itu juga sukses merusak mood saya sebagai penonton yang mencoba menghayati film ini.

Selain itu, film ini cukup oke. Kita akan dimanjakan dengan latar Padang tahun 1922 yang sangat apik. Bahkan Ka’bah pada jaman dulu juga bisa ditampilkan dengan cukup bagus. Tak heran jika film ini menghabiskan puluhan miliar rupiah untuk proses pembuatannya.

Yang jelas jika Anda menyukai film romantis yang menguras air mata, film ini cocok untuk  Anda. Apalagi film ini menjanjikan “sad ending” walaupun menurutku  ending-nya agak kurang mengharukan. Mungkin karena chemistry yang kurang antara Junot yang memerankan Hamid dan Bella yang memerankan Zainab.