He's Just Not That Into You

But sometimes we’re so focused on finding our happy ending.

We don’t learn how to read the signs.

How to tell the ones who want us from the ones who don’t.

The ones who will stay from the ones who will leave.

And maybe this happy ending doesn’t include a wonderful guy.

Maybe it’s you…on your own…picking up the pieces and starting over.

Freeing yourself up for something better in the future.

Maybe the happy ending is just…moving on.

Or maybe the happy ending is this:

Knowing that through all the unreturned phone calls and broken hearts…through all the blunders and misread signals…through all of the pain and embarrassment…you never, ever gave up hope.

Film ini mengisahkan kisah cinta yang berbeda antar tokoh di dalamnya dan masalah2 yang mereka hadapi. Tokoh pertama adalah Gigi yang hampir selalu ditolak oleh pria. Tapi walaupun begitu dia tidak pernah menyerah. Begitu juga ketika dia ditolak oleh Conor, seorang agen real estate. Akhirnya Gigi nekat pergi ke club dimana Conor sering berada. Saat itulah dia bertemu dengan Alex yang merupakan pemilik club dan juga sahabat dekat Conor. Dengan Alex, Gigi bercerita banyak hal dan Alex sering memberinya nasehat tentang pria.

Conor sendiri terlibat cinta bertepuk sebelah tangan. Sudah lama dia tertarik dengan Anna yang hanya menganggapnya sebagai sahabat. Anna sendiri secara tidak sengaja bertemu dengan Ben di sebuah mini market. Di situlah awal dari cinta terlarang antara Anna dan Ben yang notabene sudah menikah dengan Janine.

Tokoh selanjutnya adalah Beth dan Neil, pasangan yang sudah berpacaran selama 7 tahun tapi belum juga menikah. Beth menginginkan pernikahan tapi Neil sendiri adalah orang yang tidak percaya pada pernikahan.

Lalu yang terakhir adalah Mary. Mary adalah sahabat Anna. Dia mencari pria lewat MySpace dan akhirnya menemukan pria yang menarik, yaitu Jude.

Masalah pun mulai bergulir di antara tokoh2nya.

Gigi yang mulai sadar kalau dia jatuh cinta pada Alex dan mengira bahwa Alex punya perasaan yang sama mulai memberanikan diri untuk “maju”. Tapi ternyata yang didapatnya adalah penolakan Alex. Perselingkuhan Ben dan Anna pun diketahui oleh Janine tapi Janine memilih untuk mempertahankan pernikahannya. Sedangkan Beth akhirnya memilih memutuskan hubungannya dengan Neil karena Neil tidak kunjung menikahinya. Sedangkan Jude, orang yang Mary sukai, ternyata menelepon wanita lain selain Mary sehingga Mary pun patah hati. Begitu juga Conor yang cintanya masih juga bertepuk sebelah tangan dengan Anna yang memilih untuk terus bermain api dengan Ben.

Lalu akhirnya setelah mengalami berbagai hal, para tokoh ini pun mengambil tindakan yang berbeda. Alex ternyata menyadari bahwa dia juga menyukai Gigi dan akhirnya mereka pun menjadi sepasang kekasih. Anna memutuskan hubungannya dengan Ben karena suatu alasan dan akhirnya dia menjadi penyanyi seperti yang diimpikannya. Janine memutuskan untuk mengakhiri pernikahannya dengan Ben. Beth akkhirnya sadar bahwa Neil sangat mencintainya dan akhirnya mereka menikah. Sedangkan Conor dan Mary dipertemukan secara tidak sengaja di sebuah restoran dan akhirnya mereka menjadi sepasang kekasih.

Dari kisah di atas, Greg Behrendt dan Liz Tuccillo yang merupakan pengarang dari novel dimana kisah ini diambil, ingin mengatakan bahwa happy ending tidak selalu seperti Gigi dan Alex atau Conor dan Mary yang akhirnya menjadi sepasang kekasih tapi bisa juga seperti Janine, yang membebaskan dirinya dari cinta yang menyakitkan demi masa depan yang lebih baik. Atau bisa juga seperti Anna yang akhirnya bisa meraih cita2nya. Semuanya adalah happy ending, seperti yang termuat dalam quote di atas.

But sometimes we’re so focused on finding our happy ending.

We don’t learn how to read the signs.

How to tell the ones who want us from the ones who don’t.

The ones who will stay from the ones who will leave.

Kadang kita terlalu fokus pada mencari hal yang kita anggap sebagai happy ending tanpa belajar dari masa lalu. Berdasarkan pengalaman, harusnya kita tahu siapa orang yang menginginkan kita dan yang tidak. Atau siapa yang akan tetap di sisi kita apapun yang terjadi atau yang akan meninggalkan kita. Jika seseorang menginginkan kita, maka tidak ada satupun hal yang bisa menghalanginya untuk bersama kita, tapi jika seseorang itu tidak menginginkan kita, maka sekeras apapun usaha kita untuk menghalangi orang itu pergi maka dia akan tetap pergi.

And maybe this happy ending doesn’t include a wonderful guy.

Maybe it’s you…on your own…picking up the pieces and starting over.

Freeing yourself up for something better in the future.

Bisa jadi happy ending tidak melibatkan seorang pria. Bisa jadi happy ending itu berasal dari diri kita sendiri yang berusaha bangkit dari keterpurukan dan memulai segalanya dari awal. Bisa jadi happy ending itu membebaskan diri kita sendiri dari belenggu cinta yang menyakitkan untuk sesuatu yang lebih baik di masa depan.

Maybe the happy ending is just…moving on.

Mungkin happy ending itu kita menatap masa depan dan meninggalkan masa lalu kita yang kelam. Karena pasti di masa depan ada sesuatu yang lebih baik yang menanti kita.

Or maybe the happy ending is this:

Knowing that through all the unreturned phone calls and broken hearts…through all the blunders and misread signals…through all of the pain and embarrassment…you never, ever gave up hope.

Atau bisa jadi happy ending adalah tidak pernah berhenti berharap dan menyerah seperti Gigi. Walaupun sering ditolak, walaupun sering sakit hati dan malu, tapi dia tidak pernah berhenti berharap.

Jadi apa happy ending yang sebaiknya kita pilih? Tergantung dari situasi kita. Jika memang masih ada kesempatan, maka jangan pernah berhenti menyerah dan berharap karena keajaiban itu bisa saja terjadi. Jika memang ternyata sudah terlalu menyakitkan dan tidak bisa dipaksa lagi, maka mungkin kita harus merelakannya untuk sesuatu yang lebih baik di masa depan. Jika kita merelakan seseorang untuk bahagia, maka berarti kita juga mengijinkan diri kita untuk bahagia.

Terakhir, aku pingin berbagi pelajaran apa yang aku tangkep dari film ini:

  • Dari Gigi, aku belajar tentang ketegaran. Aku juga kagum pada sifat pantang menyerah-nya dan juga sikapnya yang tidak pernah putus harapan. Walaupun berulang kali ditolak, walaupun berulang kali patah hati, tapi dia tidak pernah menyerah untuk mengejar cintanya
  • Dari Beth dan Neil, aku belajar bahwa jika seseorang benar2 mencintai kita, bagaimanapun keadaannya, dia akan selalu ada untuk kita tanpa kita minta.
  • Dari Janine dan Ben, aku belajar bahwa jangan pernah menikah dengan seseorang jika kita belum siap. Di film ini diceritakan bahwa Ben terpaksa menikahi Janine karena Janine memaksanya dan akhirnya Ben berselingkuh. Karena itulah lebih baik tunda dulu pernikahan kalau memang di antara kita dan pasangan sama2 belum siap. Jika memang dia jodoh, pasti suatu hari nanti kalian akan disatukan.

Itu saja ulasan dari aku. Intinya film ini recommended banget deh buat ditonton🙂

But sometimes we’re so focused on finding our happy ending.We don’t learn how to read the signs.

How to tell the ones who want us from the ones who don’t.

The ones who will stay from the ones who will leave.

And maybe this happy ending doesn’t include a wonderful guy.

Maybe it’s you…on your own…picking up the pieces and starting over.

Freeing yourself up for something better in the future.

Maybe the happy ending is just…moving on.

Or maybe the happy ending is this:

Knowing that through all the unreturned phone calls and broken hearts…through all the blunders and misread signals…through all of the pain and embarrassment…you never, ever gave up hope.