Hehehe…udah lama banget ga nulis. Udah gatel pingin nulis sih tapi berhubung ga ada ide, jadinya disimpen dulu deh. Nah, tadi pas dengerin KKSK, akhirnya nemu ilham buat nulis๐Ÿ˜›

Sebenernya yang mau ku tulis ini adalah tentang dua tindakan yang sering banget kita denger di kehidupan sehari2, yaitu mengusahakan dan merelakan. Kita mungkin udah sering banget melakukannya tapi kadang kita ga tahu kapan saat yang tepat untuk melakukan di antara kedua tindakan itu. Lebih gampangnya, pake analogi cinta2an aja kali ya๐Ÿ˜›

Kadangkala kita begitu menginginkan seseorang sampai2 kita ga bisa menyerah untuk mendapatkannya. Terus akhirnya kita berusaha sekuat tenaga. Tapi setelah berusaha, kadang kita lupa untuk merelakannya. Lho, maksudnya gimana ya?

Gini, kita emang boleh berusaha sekuat tenaga. Tapi ada kalanya, ada hal yang ga bisa dipaksakan. Contoh gampangnya: perasaan manusia. Boleh aja kita berusaha untuk mendapatkan hati seseorang tapi kita ga akan bisa mengatur hatinya agar bisa membalas perasaan kita. Nah, di sinilah peran “merelakan”. Berusahalah sekuat tenaga tapi relakan hasil akhirnya. Berat? Emang iya. Tapi ya gimana lagi. Yang ada, kita hanya bisa positive thinking bahwa apapun yang terjadi nanti adalah yang terbaik. Kok tahu?

Aku sering banget denger dan baca kisah cinta orang2. Hampir semua juga pernah ngalamin yang namanya cinta bertepuk sebelah tangan. Walaupun sempet down dan nangis darah (lebay :P) gara2 ditolak, akhirnya mereka bisa nemuin orang yang lebih baik dan hidup bahagia. Mereka juga bisa tertawa jika mengenang masa lalu mereka. So, pada akhirnya ga ada yang jadi pecundang. Semua menjadi pemenang.

OK, lanjut…

Merelakan, ga cuma bisa digunakan dalam kasus itu. Misalnya saja pada kasus orang yang lagi udah pacaran. Ketika kita mencintai seseorang, kadang sebaliknya kita juga takut untuk kehilangan orang itu. Dan ketika kita kalah oleh rasa takut itu maka yang ada hati kita dikuasai oleh rasa takut, cemas, curiga, cemburu, iri, dan perasaan2 negatif lain. Dan akhirnya semua itu berpengaruh pada sikap kita. Kita menjadi posesif, mengekang pacar, dsb yang kita benarkan sebagai usaha kita untuk menjaga agar orang yang kita cintai ga pergi dari kita. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Kenapa?

Tidak seharusnya kita membiarkan emosi menguasai hati kita. Ketika emosi yang bertasbih maka tindakan yang kita lakukan pun terpengaruh oleh emosi. Dan akibatnya adalah: it’s getting worse. So, harus gimana dong?

Yang pertama, ketika kita merasa emosi sudah menguasai hati kita, akui dan relakan saja emosi kita, jangan dipendam. Akuinya ke sapa? Paling bagus ya ke Allah karena hanya Dia-lah yang bisa membersihkan perasaan2 negatif di hati kita dan menggantinya dengan ketenangan. Bersujud dan menangislah pada-Nya karena Dia-lah sebaik2 penolong. Kedua, kita harus sadar bahwa perasaan itu ga bisa dipaksa. Kita emang ga pingin kehilangan dia tapi yang bisa kita lakukan hanyalah berusaha menjadi yang terbaik. Selain itu, biarlah Allah yang menentukan. Jika kita memang tulus, pasti kita ga akan ngerasa sia2 dengan apa yang udah kita lakukan apapun nanti hasilnya.

Keknya gampang ya ngomongnya? Sebenernya ga. Sampe sekarang pun aku masih belajar untuk menjadi seperti itu. Sama2 berjuang aja deh ya๐Ÿ˜€