Melelahkan, itulah yang Via rasakan pada OSPEK kali ini. Tidak hanya menguras tenaga dan waktu tapi juga pikiran. Setiap hari diharuskan mengejar-ngejar senior buat dimintai tanda tangan. Tapi dasarnya emang senior menyebalkan, para senior itu dengan soknya dan angkuhnya menolak taktik gerilya kami para mahasiswa baru untuk berkenalan dengan mereka. Kalau liat muka mereka, bener-bener pingin nonjok rasanya.

“Sabar ya, Vi.” selalu itu yang dikatakan oleh teman sekaligus sahabat Via, Nana, kalau Via sudah mulai mengeluh. Biasanya Via cuma menanggapi dengan helaan napas yang tidak ada putusnya.

Lalu hari ini rencananya mereka akan pergi ke club-club yang ada di kampus untuk meminta tanda tangan para penghuninya. Di kampus mereka ada 5 club. 4 club sudah mereka lalui dengan lancar. Kurang 1 club lagi yang belum. Waktu Via mengajak teman-temannya masuk ke club itu, teman-temannya langsung mengambil langkah seribu dan memilih ngacir. Ya mungkin mereka memang tidak salah sih, karena club yang satu itu memang terkenal angker penghuninya. Tapi bagaimanapun, mereka tetap harus masuk ke club itu karena kalau sampai tanda tangan mereka kurang, seangkatan bakal kena hukuman semua.

Karena itulah Via dan Nana akhirnya memberanikan diri untuk masuk ke club itu. Pertama kali membuka pintu, yang terlihat adalah pemandangan para cowok yang sedang asyik bermain game komputer. Tapi ketika mereka masuk, pandangan para cowok itu langsung teralih pada mereka. Via dan Nana pun langsung membatu.

“Wah, ada maba nih.” celetuk salah seorang cowok dengan postur badan pendek dan kepala plontos. Yang lainnya langsung menanggapi dengan gumaman yang tidak jelas lalu mereka kembali sibuk bermain game lagi.

Via dan Nana saling melirik dengan gugup lalu menganggukkan kepala dan mulai berpencar ke arah cowok-cowok yang berbeda untuk mulai berkenalan.Via memilih berkenalan dengan seorang cowok super kurus yang kelihatan cuek.

“Permisi, kak.”sapa Via hati-hati.

“Eh, iya, ada apa ya?” di luar dugaan, cowok itu membalas sapaannya dengan kikuk.

Via pun memulai taktik SKSDnya untuk berkenalan. Semua hal ditanyakan, dari nama sampai makanan kesukaan. Terakhir, tentu saja minta tanda tangan. Ketika sudah selesai dengan Kak Antok (nama cowok super kurus itu), Via beralih ke cowok-cowok lainnya. Ternyata para penghuni club itu tidak sehoror yang dibilang orang, begitulah kesimpulan Via. Memang wajah mereka kebanyakan agak menakutkan tapi sebenarnya mereka asyik juga.

Ketika Via dan Nana asyik mengobrol dengan para penghuni club, orang itu masuk. Pertama kali melihatnya, Via cuma tertegun. Orang itu berbadan besar dan berwajah agak masam. Dia sama sekali tidak menghiraukan Via dan Nana dan langsung saja duduk di depan komputernya. Via sudah akan beranjak untuk mengajak orang itu berkenalan. Tapi kemudian dia ragu-ragu dan memutuskan untuk tetap di tempatnya sambil sesekali mencuri pandang pada orang itu.

Tak terasa, hari semakin sore. Via dan Nana pun berpamitan untuk pulang. Sebelum menutup pintu club, Via masih sempat memandang orang itu. Entah kenapa wajah orang itu terus terpatri dalam ingatannya hingga dia pulang.

To be continued…