Gini-gini, aku juga penggemar roti tawar lho.Buat ngemil, roti tawar itu emang enak banget.Aku sih yang simpel aja, biasanya makan roti tawar pake mentega doang.Kadang pake keju parut :p (pantes tambah endut).Nah…aku paling suka roti tawar susu (milk loaf) yang biasanya ada kulitnya.Tapi sayangnya ga semua roti itu enak.Kadang setelah sehari, rotinya udah keras en rasanya dah hambar walaupun udah ditutup rapat-rapat.Kadang juga rotinya ga kenyal.Dulu sih seringnya beli roti tawar dari tukang roti yang lewat.Terus pas ke Hypermart, nemu roti tawar susu yang lumayan enak.Tapi ya itu, setelah sehari kadang rasanya dah ga terlalu enak.Terus aku nemu roti tawar susu yang sesuai idamanku.Yang jual itu Dunny Donuts, sebuah bakery kecil di JMP (Jembatan Merah Plasa) Surabaya.Rotinya kenyal banget en rasa susunya kerasa walaupun dah lewat beberapa hari.Walau dimakan tanpa mentega pun rasanya dah enak.Aku jadi ketagihan ama roti itu.Sayangnya, bakery itu cuma ada di JMP yang notabene jauh banget dari rumahku yang di Surabaya Selatan.Jadinya ga bisa beli setiap hari deh.Cuma bisa beli kalo ke JMP doang.Itu aja jarang banget.Hiks…coba aja kalo Dunny Donuts buka cabang dimana gitu.Atau ga, pake tukang roti keliling yang kelilingnya di wilayah Surabaya Selatan.Hehe….
Januari 2009
Januari 29, 2009
Januari 17, 2009
Dari dulu, aku selalu memimpikan kehidupan yang bak dongeng dimana tokoh utama selalu berhasil melalui segala masalah en akhirnya hidup bahagia selamanya.Dulu aku begitu naif dengan berpikir kalau kehidupan seperti itu nyata.Tapi sekarang, setelah melihat realita kehidupan dan jatuh bangun dalam hidup, aku jadi berpikir kalau “Happy Ever After” atau “Happy Ending” itu ga ada.Segala sesuatu yang kita dapat akan hilang dan segala sesuatu yang dimulai suatu saat pasti akan berakhir.Sekarang aku menerapkan pola pikir seperti itu agar jika kehilangan atau ditinggalkan, aku ga akan merasa merana lagi karena dari awal aku dah nyiapin mental untuk semua itu.
Ada kalanya memang lebih baik ga terlalu menyayangi sesuatu.Secukupnya aja.Tapi aku sendiri ga tahu seberapa banyak “secukupnya” itu.Sering aku mengira kalau perasaanku dah cukup tapi tetep aja kalo ilang sedihnya minta ampun.Jadi intinya, apa yang aku rasain belum mencapai kata “secukupnya” malah cenderung berlebihan.
Tapi sekarang aku dah cukup “eneg” belajar dari semua ini.Sekarang aku dah bisa ngira2 seberapa besar cukup itu.Dengan cara berpikir kalau kita ga pernah bener2 memiliki apa yang kita miliki itu cukup membantu.Segalanya pasti akan kembali kepada-Nya.Manusia akan kembali menjadi tanah.Barang yang kita miliki suatu hari pasti akan rusak.Begitu juga suatu hubungan, pasti ga akan berlangsung selamanya.
Semuanya pasti akan berakhir.Semuanya pasti akan kembali ke tempatnya bermula….