Dear my diary…

Dari dulu aku selalu memimpikan punya pacar yang cakep, baik, keren, pintar, atletis, perhatian, pengertian, dll sewaktu masuk SMA nanti. Sebenarnya impianku itu tidak terlalu muluk kan? Semua cewek pasti menginginkan cowok seperti itu.

Tapi impian itu hancur seketika malam itu.

“Sheila, perusahaan ayahmu di ambang kehancuran.Ayahmu sudah tidak bisa lagi berbuat apa-apa untuk menyelamatkannya, kecuali menjualnya.”

“Tapi masalahnya tidak ada yang mau membeli perusahaan ayah karena banyak sekali utang yang ditanggung perusahaan ayah.”

“Kalau tidak ada yang membeli perusahaan ayahmu maka semua harta kita akan diambil alih oleh bank untuk menutupi utang.”

Waktu itu ayah dan ibu berkata hampir bersamaan dan menatapku seakan hanya aku yang bisa menyelesaikan masalah itu.Tapi apa yang bisa kuperbuat? Aku baru lulus SMP dan aku tidak mengerti sama sekali soal keuangan perusahaan.

“Apa sudah separah itu?”tanya Sheila.

Orangtuanya mengangguk berbarengan.

“Dan yang kami takutkan lagi, kamu tidak bisa melanjutkan sekolahmu ke SMA.”

Mendengar kata-kata ibu, bayanganku tentang masa-masa indah di SMA langsung hancur lebur.Waktu itu aku langsung membayangkan diriku yang memakai baju compang-camping dan meminta-minta di depan sebuah SMA.

“Sebenarnya ada 1 orang yang mau membeli perusahaan ayah dengan harga tinggi.Namanya Eric Gutama.Dia memiliki 30 hotel dan 103 restoran yang tersebar di seluruh Indonesia.”

“Lalu, kenapa tidak cepat ayah jual saja perusahaan ayah padanya?”tanya Sheila tidak habis pikir.

“Masalahnya, dia mengajukan 1 syarat yang sangat sulit.”

Syarat, aku paling benci mendengar kata itu, karena kata itu identik dengan sesuatu yang buruk. Dan ternyata memang benar.

“Dia ingin menikahimu.”

Dan kisahku pun dimulai.

ííí

Sheila menangis sesenggukan di kamarnya, sementara ayah dan ibunya terus mengetuk-ngetuk kamarnya dari luar dengan cemas.

“Sheila, ayah tidak akan memaksamu.Ayah tahu kamu masih ingin menikmati masa remajamu.”

“Kalau kamu tidak mau tentu ayahmu akan menolaknya dan berusaha untuk mencari jalan keluar lain.”

Sheila tidak berkomentar.Dia masih sangat syok dengan kata-kata ayahnya tadi.Menikah?Yang benar saja.Dia masih 14 tahun dan masih ingin menikmati masa-masa remajanya yang indah.

“Sudahlah, Sheila.Jangan terlalu dipikirkan.Yang pasti kami mengutamakan kebahagiaanmu, karena itu kami tidak akan memaksamu jika kamu tidak ingin.Kami janji.”

Setelah ayahnya berkata seperti itu, ketukan-ketukan di pintu tidak terdengar lagi.Sheila mengintip dari lubang pintu.Ayah dan ibunya sudah tidak ada di balik pintu.Sheila mengusap air matanya, lalu mulai berbaring.Beberapa menit kemudian dia sudah terlelap.

Tapi menjelang tengah malam, tiba-tiba dia terbangun dengan keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya.Dia tadi bermimpi dinikahkan dengan kakek-kakek yang sudah berumur 1 abad.Sheila bergidik ngeri mengingatnya, lalu dia memutuskan untuk tidak tidur lagi dan mengambil minum di dapur.

Sheila membuka pintu kamarnya dengan perlahan, lalu mulai berjalan mengendap-endap ke dapur.Semua lampu sudah dipadamkan.Sheila berjalan dengan hati-hati agar tidak menabrak sesuatu yang bisa membangunkan orangtuanya.

Jantung Sheila nyaris copot ketika dia mendengar suara-suara dari kamar orangtuanya yang berjarak 1 kamar dari dapur.Dia langsung bersembunyi di belakang guci besar yang ada di samping kamar orangtuanya dan mendengarkan dengan seksama.

“Ayah tidak tahu lagi harus melakukan apa.Tidak ada lagi yang mau membeli perusahaan ayah selain Eric.”terdengar suara ayahnya dari dalam kamar.

“Tapi kita kan sudah janji untuk tidak memaksa Sheila apapun yang terjadi.”kata ibunya.

“Ayah tahu.Ayah juga tidak ingin Sheila menderita.Tapi pikirkan bagaimana nasib keluarga kita nanti.Kita akan kehilangan segala-galanya, bahkan itupun belum cukup untuk melunasi utang perusahaan ayah.Ayah masih harus membayar 30 % lagi.Dengan utang yang begitu banyak, bagaimana ayah dapat membiayai sekolah Sheila?Bagaimana ayah dapat membesarkan anak yang ada di dalam kandungan ibu?”

“Sudahlah, ayah, sudahlah.Ibu tidak sanggup lagi mendengarnya.”

Sheila mendengar ibunya menangis, lalu suara ayahnya yang berusaha menenangkan ibunya.Hatinya bagai tersayat mendengarnya.

Setelah agak lama, tidak terdengar lagi suara-suara dari kamar orangtuanya.Sheila masih termenung di belakang guci besar itu dengan hati yang galau.

ííí

Sheila memandang lalu lalang mobil di jalan kota Surabaya di malam hari dari kaca mobilnya dengan hampa.Malam itu dia dan orangtuanya akan makan malam bersama keluarga Eric untuk penjajakan.Ya, Sheila memang telah setuju untuk menikah dengan Eric.Bukannya dia mau.Dia hanya ingin bersikap dewasa dan tidak hanya memikirkan dirinya sendiri.

“Sheila, kamu masih bisa membatalkan keputusanmu kalau kamu mau.”kata ibunya.

Sheila menatap ibunya sejenak dan perut ibunya yang membuncit, lalu berkata,”Sheila sudah mantap kok, bu.Sheila sudah siap menerima segala sesuatunya.”

Mata ibunya langsung berkaca-kaca.Sheila memeluk ibunya erat, berusaha menenangkannya.

Beberapa menit kemudian, mereka sampai di restoran yang dituju.Perasaan Sheila kembali diliputi galau.Apalagi ketika ayahnya berkata,”Perlu kamu ketahui, umurmu dan Eric terpaut 10 tahun.Kalau kamu keberatan….”

“Tidak, yah.Sheila tidak keberatan.”potong Sheila sambil tersenyum.

Tentu saja itu bohong. 10 tahun?Sheila langsung teringat mimpinya bersama kakek-kakek berumur 1 abad.Tapi langsung ditepisnya bayangan mimpi itu.Dia dan Eric hanya terpaut 10 tahun, bukan 85 tahun.Itu berarti Eric berumur sekitar 24 tahun.

Hilang bayangan kakek-kakek, muncul bayangan om-om genit yang biasa dilihat Sheila di perusahaan ayahnya.Sheila langsung bergidik ngeri.Bagaimana kalau Eric benar-benar seperti itu?

“Maaf, apa Anda sudah memesan tempat?”tanya seorang pelayan ketika Sheila dan orangtuanya memasuki restoran.

“Ng…..”ayahnya tampak kebingungan.

“Mereka duduk bersama kami.”kata sebuah suara dari balik punggung Sheila.Sheila langsung menoleh.Dilihatnya seorang cowok yang luar biasa tampan berdiri di belakangnya.Entah bagaimana Sheila dapat melukiskannya.Yang pasti cowok itu sangat mempesona.Tatapan matanya tajam tapi lembut.Lalu setelan jas hitam serta kacamatanya membuatnya tampak dewasa, gagah, dan berwibawa.

“Oh, Eric.Maaf kami terlambat.”kata ayahnya pada cowok itu.

Sheila ,setengah terperangah setengah tidak percaya, menatap cowok itu yang ternyata tak lain dan tak bukan adalah Eric sendiri, cowok yang akan membeli perusahaan ayahnya.Cowok yang punya 30 hotel dan 103 restoran yang tersebar di seluruh Indonesia.Cowok yang katanya terpaut 10 tahun darinya.Cowok yang ingin menikahinya.

“Perkenalkan, ini Sheila, anak kami.”ayahnya memperkenalkannya.Eric tersenyum padanya.Sheila dengan sekuat tenaga membalasnya dengan senyum yang cukup manis.

“Ayah dan ibu sudah menunggu di sana.”Eric menunjuk meja yang ada di dekat jendela.Di sana duduk pria dan wanita paruh baya yang dari penampilannya kelihatannya termasuk orang penting.”Silakan om dan tante ke sana duluan.Saya mau mengajak Sheila berkeliling restoran, boleh kan?”

Sebenarnya Sheila enggan berjalan-jalan dengan cowok yang sudah menghancurkan hidupnya itu, tapi demi ayahnya dia mencoba bersikap baik sehingga ketika ayahnya meliriknya, dia mengangguk sekilas.

“Silakan”kata ayahnya pada Eric.

Eric tersenyum, lalu langsung menarik tangan Sheila keluar restoran.Di tempat yang agak sepi, Eric melepas tangan Sheila dan memandangnya dengan tajam.

“Ada beberapa hal yang ingin kubicarakan.”kata Eric dengan nada serius.

Sheila berusaha untuk tidak berkata ‘apa’ dan memilih untuk diam.Eric pun melanjutkan kata-katanya, “Sebenarnya ini semua juga bukan kemauanku.Aku hanya ingin menyenangkan ayahku yang ingin aku cepat-cepat menikah.”

“Lalu kenapa kamu memilihku?Orang kaya sepertimu pasti bisa mendapatkan gadis manapun yang kamu suka.Kenapa harus aku yang 10 tahun lebih muda darimu?Aku belum siap dengan semua ini.Aku masih kecil.Aku baru lulus SMP.Aku ingin masuk SMA dan menikmati masa remajaku di sana”Sheila tidak bisa menahan diri lagi.Matanya berkaca-kaca.Eric memandangnya sejenak, lalu memalingkan muka.

“Yah…aku tidak bisa kan membeli perusahaan ayahmu dengan cuma-cuma, apalagi perusahaan ayahmu terkenal banyak utang.Anggap saja kita ingin menolong ayah masing-masing.Adil kan?”kata Eric dingin.”Tapi tenang saja, kamu tetap boleh sekolah kalau itu yang kamu mau.”

Sheila memandang Eric dengan perasaan benci yang mendalam.Dia ingin membalas Eric dengan kata-kata yang menyakitkan, tapi tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya.

“Ayo masuk.Orangtuaku ingin bertemu denganmu.”kata Eric sambil berjalan meninggalkan tempat itu.Sheila mau tidak mau mengikutinya.

ííí

Rasanya sulit dipercaya.Hari ini, seminggu sebelum hari pertama Sheila di SMA, dia menikah dengan Eric.Memang tidak besar-besaran.Yang diundang hanya keluarga besar Eric dan Sheila, juga teman-teman dekat Eric.Sheila tidak mengundang teman SMP-nya satupun.Teman-teman SMP-nya tukang gosip semua.Salah-salah dia bisa dikeluarkan dari SMA sebelum sempat menikmatinya kalau ketahuan sudah menikah.

“Pengantin wanita akan memberikan kue pertamanya pada orangtuanya.”kata MC ketika acara pemotongan kue pengantin.

Sheila mengambil sepotong besar kue pengantin penuh krim dan meletakkannya di atas piring kertas, lalu mulai berjalan menuju orangtuanya dengan tatapan semua undangan mengarah kepadanya.

Semula semua berjalan lancar, sampai tiba-tiba kakinya terserimpet gaun pengantinnya dan dia jatuh dengan muka mendarat tepat di atas kue penuh krim yang tadi dibawanya.Tentu saja mukanya langsung berlepotan krim kue.Spontan para undangan tertawa terbahak-bahak.Muka Sheila langsung merah padam.

“Ayo berdiri.”Eric mengulurkan tangannya.Sheila menerima ulurannya dengan terpaksa.

“Tenanglah, tetap tersenyum.”bisik Eric di telinganya.

Gampang sekali dia ngomong begitu, batin Sheila, kan bukan dia yang jatuh.Namun tak urung dia pun tersenyum juga.

Setelah resepsi pernikahan yang melelahkan, Sheila capek luar biasa.Rasanya dia ingin cepat tidur.Tapi membayangkan apa yang akan terjadi malam itu rasanya dia tidak mungkin bisa tidur.

“Aku tidur di kamar sebelah.”kata Eric di luar dugaan.”Pintu itu ( Eric menunjuk pintu yang ada di sebelah lemari ) tembus ke kamarku.Jangan lupa menguncinya kalau kamu mau mandi.”

Aku akan menguncinya selamanya, batin Sheila.

“Jangan menguncinya terus!”kata Eric dingin seakan tahu apa yang dipikirkan Sheila.”Aku tidak mau repot-repot keluar dari kamar jika ada keperluan mendadak denganmu.”

Sheila menggerutu ketika Eric sudah menghilang ke kamarnya.Dia cepat-cepat mengunci pintu penghubung itu, takut Eric macam-macam jika dia sudah tidur nanti.Lalu dia pun terlelap.

ííí

3 tahun kemudian…..

Pagi itu sangat cerah.Sheila memarkir mobilnya dengan mulus di halaman sekolah tepat di bawah pohon mangga yang ada di seberang gerbang sekolah.Setelah mematikan radio dan AC mobil, Sheila keluar dari mobil dan berjalan memasuki sekolah.

“Shel, Sheila.”seru sebuah suara cempreng dari belakang punggung Sheila.

Sheila menoleh.Ruri, sahabatnya, berlari-lari ke arahnya.

“Gawat, Shel, gawat.Ada sesuatu yang mengerikan.”kata Ruri setengah terengah-engah karena habis berlari-lari.

“Apaan?”tanya Sheila.

“Gue belum ngerjain PR Fisika.”kata Ruri dengan mimik serius seakan-seakan itu sama mengerikannya dengan tsunami di Aceh.

“Yaela, kirain apaan.”kata Sheila.

“Itu kan mengerikan, Shel.Lo sih belum pernah tahu rasanya dihukum Pak Ketut.”kata Ruri sok.

“Palingan juga disuruh lari keliling lapangan 50 x.”kata Sheila.

“Palingan?PALINGAN?Gue hampir mati tahu waktu disuruh lari Pak Ketut 50 x.Gue nyaris pake kursi roda karena nggak bisa jalan.”kata Ruri dengan nada tinggi.

Tentu saja itu hiperbol.Tidak mungkin orang harus memakai kursi roda hanya karena lari 50 x keliling lapangan yang luasnya cuma 600 x 600 m.Tapi bagi Ruri yang berbadan gendut, mungkin wajar saja bila merasa seperti itu.

“Lagian lo juga sih.Udah tahu Pak Ketut killer gitu masih aja nekat nggak ngerjain PR.”kata Sheila.

“Tadi malem gue ngerjain PR-nya Bu Gita.Lo ngerti kan kalo Bu Gita lebih mengerikan daripada Pak Ketut.”kata Ruri.

“Itu sih jelas.Jangankan yang belum ngerjain PR, yang udah aja sering kena hukuman.”kata Sheila.Dia masih ingat jelas ketika Bu Gita, guru matematikanya, menyuruhnya mengerjakan 100 soal hanya karena dia menulis angka 9 mirip dengan huruf g.”Tapi Ri, sekarang kan nggak ada pelajarannya Bu Gita.Ada juga besok.”

“Masa’ sih?”Ruri langsung merogoh-rogoh tasnya dan mengeluarkan secarik kertas yang diyakini Sheila jadwal pelajaran.”Iya, ya.Bego banget sih gue.Terus gimana dong, Shel.”kata Ruri memelas.

“Ntar di kelas gue pinjemin.Tenang aja.”kata Sheila.

“Makasih ya Shel.Lo baik banget.”Ruri memeluk Sheila erat.Sheila memberontak karena nyaris tidak bisa bernapas dibekap oleh tubuh big size Ruri.

“Wah….pagi-pagi gini udah lesbi.”kata Fitri, sahabat Sheila yang satunya, ketika melewati mereka.

Ruri melepaskan pelukannya tepat ketika Sheila sudah kehabisan napas.

“Lo mau bunuh gue ya, Ri.”kata Sheila sebal.

“Sori, Shel.”kata Ruri sambil cengengesan.

Bel berbunyi ketika mereka sampai di depan kelas.Ruri langsung panik.

“Cepetan, Shel, PR-nya.”kata Ruri ketakutan.

Sheila membuka tasnya, mencari-cari, lalu langsung ikutan panik.PR Fisikanya tidak ada dimanapun juga.Dia berusaha mengingat-ingat, lalu dia menepuk dahinya.PR-nya ketinggalan di atas meja riasnya.

“Aduh, gawat.PR gue ketinggalan.”kata Sheila kebingungan.

“Terus gimana dong?”Ruri menggigit jari.

“Nih, cepetan salin PR gue.”Fitri menyodorkan PR-nya.Sheila dan Ruri langsung menyambarnya.Tapi terlambat.Pak Ketut sudah memasuki kelas.

“Selamat pagi.”kata Pak Ketut yang langsung dibalas selamat pagi juga oleh anak-anak.”Nah, siapa yang tidak sama sekali dan belum selesai mengerjakan PR?”

Sheila dan Ruri pun mengangkat tangannya dengan pasrah.

“Kalau begitu selamat.Anda mendapat sarapan gratis dengan menu lari keliling lapangan 50x.”kata Pak Ketut.

Matahari bersinar terik walaupun hari masih tergolong pagi.Buktinya Sheila dan Ruri nyaris mati kepanasan.

“Udah berapa putaran, Shel?”tanya Ruri dengan suara seperti orang tercekik.

“Gue udah 7, lo baru 2.”kata Sheila.

Ruri langsung lemas mendengarnya.Sheila iba juga melihatnya.Tapi mungkin dengan ini berat badan Ruri akan bisa turun sekitar 5 kg.Dia kan ingin sekali kurus.

“Hei, kamu yang namanya Sheila, kemari!”seru Pak Ketut dari pinggir lapangan.Sheila langsung berlari menghampiri Pak Ketut.Ruri ikut-ikutan juga.

“Kamu boleh kembali ke kelas.Tadi Pak Kusno, penjaga sekolah, memberikan PR-mu pada bapak.Katanya tadi kakakmu mengantarkannya ke sini.”kata Pak Ketut.

Kakak?batin Sheila, sejak kapan dia punya kakak?Lalu dia berpikir pastilah itu Eric.

“Makasih, Pak.”kata Sheila lega.

“Kamu masih kurang 48 x.”kata Pak Ketut kejam pada Ruri.

Ruri kembali ke lapangan dengan sempoyongan.Sheila bergumam minta maaf padanya sebelum kembali ke kelas.

Ruri baru kembali ketika bel istirahat berbunyi.Tampangnya seperti hantu dan bajunya basah oleh keringat.Dan tiba-tiba saja dia pingsan di depan Sheila dan Fitri.

“Aduh, Ri, lo kok pake pingsan segala sih?Lo kan berat banget.”kata Fitri sebal.

“Udah deh, Fit, angkat aja.”kata Sheila sambil menarik tangan Ruri yang super gede.Tapi percuma saja.Tubuh Ruri tidak bergerak 1 cm pun.

“Lho, Ruri kenapa, Shel?”tanya sebuah suara yang membuat hati Sheila kebat-kebit.Sheila mendongak dan benar saja yang tadi bertanya padanya adalah Kevin, cowok yang diam-diam ditaksirnya selama ini.

“Udah tahu Ruri pingsan, masih aja nanya.”kata Fitri ketus.Sheila langsung menyodoknya keras dan tersenyum minta maaf pada Kevin.

“Gue bantu ya gendong dia ke UKS.”kata Kevin.

“Silakan aja .”kata Fitri sinis.

Kevin mengangkat tubuh Ruri dan menggendongnya dengan mantap.Sheila sampai terkagum-kagum melihat bagaimana kuatnya Kevin mengangkat tubuh Ruri yang super gede itu.

“Lo nggak keberatan, Vin?”tanya Sheila, takut tiba-tiba Kevin ambruk karena keberatan.

“Nggak kok.Gue kan binaragawan.Cuma segini sih enteng.”kata Kevin sedikit sombong.”Gue bawa dia ke UKS ya.”

Sheila memandang punggung Kevin dengan terpesona ketika dia meninggalkan kelas bersama Ruri dalam gendongannya.Diam-diam Sheila berharap dia yang pingsan tadi.

“Dasar cowok cari perhatian.”gerutu Fitri.Sheila agak marah mendengarnya, tapi dia memilih diam karena dia sudah terlalu sering bertengkar dengan Fitri gara-gara Kevin.

ííí

Malamnya, Sheila berbaring malas-malasan di tempat tidurnya.PR matematikanya tergolek tak tersentuh di depannya.Dia paling tidak ahli pelajaran eksak, tapi entah kenapa dia dimasukkan ke IPA.

Kalau tidak terbayangkan hukuman yang akan diterimanya bila tidak mengerjakan PR, mungkin dia memilih untuk tidur.Tapi mencoba mengerjakannya pun percuma saja.Otaknya langsung macet jika melihat angka-angka yang terlalu banyak.

Sebenarnya ada satu orang yang bisa membantunya mengerjakannya, tapi dia terlalu gengsi untuk minta tolong.

Sheila membaca soal no.1 (berapakah turunan dari cos 2x cosec2(3x+1) sin3(28x2-14x+7) tan55x).Lalu dia membaca soal no.2 (gambarlah kurva y=6x cotan5(4x+3)).Lalu dia membaca soal no.3, 4,5,6,7,8,9, sampai no.50, tapi tidak ada satupun yang dia bisa.Sheila menyerah, lalu dia beranjak dari tempat tidurnya dan membuka pintu penghubung antara kamarnya dan Eric.

“Ada apa?”tanya Eric yang sedang membaca buku di tempat tidurnya.

“Ng…ada soal matematika yang nggak bisa kukerjain.”kata Sheila.

Eric geleng-geleng kepala, lalu berkata, “Mana?”

Memang sudah berlalu 3 tahun sejak pernikahan itu, tapi tidak ada perubahan yang berarti.Mereka masih pisah kamar dan berbicara hanya seperlunya saja seperti kalau Sheila minta tolong mengerjakan PR (Eric lulusan sarjana Fisika).Sementara itu ayah Sheila tetap bekerja di perusahaannya walaupun Eric sudah membelinya.

Dan tentu saja tidak ada yang tahu kalau mereka sudah menikah, kecuali Ruri dan Fitri.Sebenarnya Sheila bermaksud merahasiakannya juga dari kedua sahabatnya itu, tapi karena mereka secara tidak sengaja melihatnya masuk ke rumahnya bersamaan dengan Eric, mau tidak mau Sheila harus memberitahu mereka.

ííí

Paginya, Sheila bangun terlambat.Gara-gara itu dia hanya mandi sekadarnya dan hanya sempat makan 1 sendok nasi goreng yang dibuat pembantunya.

“Kok nggak bangunin sih?”Sheila marah-marah pada Eric.

“Aku udah gedor-gedor kamarmu berulangkali, tapi kamunya nggak bangun-bangun.”kata Eric ketus.”Makanya, pintunya jangan dikunci terus.”

Sheila menggerutu, lalu cepat-cepat ke garasi.

“Aduh, bensin pake abis segala lagi.”keluh Sheila ketika dilihatnya pengukur bensinnya menunjuk angka E alias empity alias kosong.

Sheila langsung kebingungan.Jelas dia tidak mungkin naik angkot.Bisa-bisa dia telat 1 jam ke sekolah.Manggil taksi pun tidak mungkin bisa karena rumahnya jauh dari pangkalan taksi sehingga walaupun dia menelepon sekarang taksi itu baru akan datang setengah jam lagi.

“Mau bareng nggak?”tanya Eric.

“OK deh.”kata Sheila setengah hati.

Baru pertama kali ini Sheila pergi ke sekolah diantar oleh Eric.Jika memang mobilnya benar-benar tidak bisa dipakai, dia memilih naik angkot atau naik taksi.Tapi kalau nyaris telat begini itu lain lagi.

Sheila memandang sekeliling bagian dalam mobil Eric (yang jauh lebih rapi dari mobilnya), lalu pandangannya tertuju pada sebuah foto berbingkai yang terpajang di atas radio.Ternyata itu foto pernikahannya dengan Eric.Di foto itu Sheila melihat dirinya sedang tersenyum tolol dengan muka berlepotan krim dan Eric berdiri di sampingnya dengan gagah.Rasanya mereka seperti handsome and the beast jika dilihat dari foto itu.

“Kenapa aku nggak inget pernah difoto waktu kejadian memalukan itu?”sindir Sheila.

Eric melirik foto itu sekilas, lalu tersenyum sambil berkata,”Aku juga nggak tahu kalau difoto.Tiba-tiba aja temenku ngasih foto ini ke aku.Katanya foto ini nggak ada klisenya, makanya aku simpen buat kenang-kenangan.”

Sheila jelas tidak sependapat dengan kata-kata Eric.Baginya kejadian waktu itu sudah memalukan.Jika ditambah dengan adanya foto yang mengabadikannya rasanya kejadian itu lebih memalukan 5x lipat.Tapi toh Sheila diam saja.

Beberapa menit kemudian, mobil Eric berhenti di depan gerbang sekolah Sheila.Waktu itu gerbang nyaris ditutup seluruhnya oleh Pak Kusno.

“Pak, jangan ditutup dulu.”seru Sheila sambil buru-buru keluar dari mobil.Lalu dia berlari dengan kencang dan berhasil melewati gerbang dengan selamat.

Tapi ternyata dia tidak sepenuhnya selamat karena Bu Gita sudah ada di kelasnya.Bu Gita, banyak guru pria yang memujanya (termasuk kepala sekolah) karena kecantikannya dan keseksiannya ditambah lagi dengan umurnya yang baru 25 tahun.Senyumnya selalu berhasil membuat semua guru pria terpesona dan takluk, tapi bagi murid-muridnya senyumnya berarti maut.

“Wah, wah, Sheila, pagi sekali kamu datang.”sindir Bu Gita.

“Jadi saya kepagian ya, bu?”tanya Sheila sok polos.

Tentu saja tidak ada yang tertawa mendengar gaya sok polos Sheila.Selain karena memang tidak lucu, semua temannya takut diberi senyuman maut oleh Bu Gita.

“Ya, kamu memang kepagian Sheila.”kata Bu Gita, lalu perlahan bibirnya yang merah tertarik membentuk seutas senyum manis yang selama ini ditakuti teman-temannya.Senyum maut.

“Kalau masih kepagian, apa yang yang biasanya kamu lakukan?”tanya Bu Gita manis.

“Di depan sekolah kan ada tukang bakso yang enak banget.Biasanya saya makan dulu di situ sambil nunggu sekolah rame.”jawab Sheila santai.Senyum Bu Gita semakin lebar.

“Kalau begitu sekarang ibu ijinkan kamu makan bakso di depan sekolah sampai gerbang sekolah ibu buka.”kata Bu Gita.

Itulah yang Sheila tunggu-tunggu.Dia berpikir mendingan makan bakso sepuasnya daripada mengikuti pelajaran Bu Gita yang selalu sentimen padanya.Makan bakso bukan hukuman yang berat kan?Apalagi dia hanya makan sedikit tadi pagi.Apa sih yang bakal terjadi kalau cuma makan bakso?Tapi Sheila lupa kalau Bu Gita tidak akan pernah memberikan hukuman yang dirasa enak bagi muridnya.

“Ini, ibu yang traktir.”Bu Gita mengulurkan uang Rp 50.000,-

“Wah, nggak usah repot-repot, bu.”kata Sheila.

“Pokoknya ambil.”kata Bu Gita tajam.Sheila cepat-cepat mengambilnya.Bu Gita tersenyum lebar ketika Sheila sudah mengantongi uang itu.

“Makasih ya, bu.Tapi uang segini kebanyakan buat beli 1 mangkok.1 mangkok kan Rp 2500,-.”kata Sheila.

“Kalau begitu beli 20.”kata Bu Gita santai.

“Tapi….”

“20.”potong Bu Gita tajam”Dan bawa ini juga.”Bu Gita mengulurkan Hpnya.”Rekam didalam Hp ini waktu kamu makan bakso agar ibu tahu kamu betul-betul makan 20 mangkok.”

“Tapi, bu….”

“30 kalau begitu, Sheila.Ini tambahan uangnya.”Bu Gita mengulurkan uang Rp 25.000,-.Sheila mengantonginya dan tidak protes lagi.

“Ingat, 30 mangkok selama jam pelajaran ibu.Harus tanpa sisa”tambah Bu Gita.”Sekarang ayo ibu antar sampai gerbang.”

Sekarang setelah menghadapi 30 mangkok bakso, Sheila baru menyesali kebodohannya mengajak Bu Gita bercanda.Seharusnya dia tahu kalau Bu Gita tidak punya rasa humor sama sekali.

“Eneng lagi busung lapar ya?”tanya Pak Somat, si penjual bakso ketika menjejerkan 30 mangkok bakso di mejanya.

“Ya begitulah, pak”kata Sheila lemas.

Sheila mulai makan mangkok pertama.Kurang dari 2 menit, mangkok itu langsung bersih.Mangkok kedua juga dimakan Sheila dengan lahap.Begitu juga mangkok ketiga.Maklumlah, Sheila cuma sempat sarapan 1 sendok nasi goreng.Tapi menginjak mangkok ke-4, 5, 6, 7, dan 8 Sheila mulai kepayahan.Dia tidak terbiasa makan banyak.Sekali makan banyak perutnya langsung mulas.

Sheila berusaha tidak mengindahkan sakit perutnya dan memakan mangkok bakso ke-9 lalu ke-10, 11, 12, 13, 14, 15….Rasanya Sheila mau muntah, tapi Sheila menahannya.Dia memakan mangkok ke-16, 17, 18, 19, 20….Kepala Sheila berkunang-kunang.Dia melanjutkan ke mangkok selanjutnya, lalu selanjutnya, dan selanjutnya sampai hanya tinggal 2 mangkok bakso yang tersisa.

Ketika mau memakan mangkok yang ke-29, Hp Sheila berbunyi.Sheila merogoh sakunya dengan menggerutu dan dilihatnya ada SMS baru.Sheila membuka SMS itu dengan tidak sabar.

SHEL, NANTI MLM ADA PESTA PERAYAAN

30 TAHUN PERNIKAHAN AYAH DAN IBUKU

DI HOTEL.MRK HRP KM MAU DTG.PLG SKUL

BRG FITRI RURI AJ Y.AQ AD RPT.ERIC.

Sheila mengeluh.Sejak insiden di pernikahannya dia jadi benci dengan yang namanya pesta.Dia takut terjadi hal yang memalukan lagi.

“Neng, baksonya masih mau dimakan?”tanya Pak Somat, membuat Sheila menyadari bahwa dia masih harus menghabiskan 2 mangkok bakso lagi.

“Iya, pak.”Sheila cepat-cepat menghabiskan mangkok baksonya yang ke-29, lalu yang ke-30.

5 menit kemudian, Bu Gita membuka gerbang.Sheila dengan perut kekenyangan berjalan gontai memasuki gerbang.

“Mana rekamannya?”tanya Bu Gita.

Sheila mengembalikan Hp Bu Gita.Bu Gita membuka-buka Hp-nya dengan senyum sinis menghiasi wajahnya.Lalu tiba-tiba dia berkata,”Ups, maaf.Videonya terhapus.Berarti bukti bahwa kamu sudah makan 30 mangkok bakso tidak ada.Jadi kamu kerjakan saja 200 soal bab 3 yang ada di buku kumpulan soal sebagai gantinya.”

“Tapi, bu….”

“Apa 200 belum cukup?”tanya Bu Gita manis.”Kalau begitu 250.”

Sheila langsung menahan gerutuannya dalam hati.Ketika Bu Gita sudah pergi, Sheila langsung ngomel-ngomel.Fitri sampai sebal gara-gara ikut kena omel.

“Lagian lo juga sih pake nantangin Bu Gita.Lo tahu pasti kan kalo pak kepala sekolah aja takluk ama nenek sihir itu, jadi lo nggak usah berharap bisa menang.”kata Fitri.

“Walaupun gue jadi anak baek pun tetep aja Bu Gita bakal nyari-nyari kesalahan gue.”Sheila membela diri.”Selama ini gue heran, Bu Gita kok sentimen banget sih ama gue.”

“Kalo menurut gue sih gara-gara polling di koran sekolah 2 tahun lalu.”kata Fitri.

“Polling?Polling apaan?”tanya Sheila tidak mengerti.Dia tidak pernah membeli koran sekolah.Walau belipun dia tidak akan ingat apa isinya setelah berlalu 2 tahun.

“Itu lho, polling ‘who are the most beautiful, student vs teacher’ .”kata Fitri.

Sheila memutar otaknya, mengingat-ingat.Lalu akhirnya dia ingat.

2 tahun yang lalu koran sekolah pernah memuat polling tentang siapa yang tercantik antara guru dan murid yang sempat membuat geger sekolah.Polling itu memang dibuat diam-diam dan nominatornya pun dirahasiakan.Lalu ketika koran itu terbit, alangkah kagetnya Sheila ketika melihat namanya ada di urutan paling atas polling.Dia mengalahkan Bu Gita yang ada di posisi 2 dengan perbedaan poin yang sangat tipis.

“Masa’ karena masalah kayak gitu doang sih?Itu kan cuma polling iseng anak koran sekolah yang pingin cari sensasi aja.Mana gue tahu kalo dinominasiin?”kata Sheila.

“Coba lo inget-inget aja sejak kapan Bu Gita jadi sadis ama lo.”kata Fitri.

Sheila kembali memutar otaknya.Awalnya sebelum koran itu terbit sikap Bu Gita memang tidak bisa dibilang baik padanya, tapi sejak koran itu terbit sikap Bu Gita langsung berubah lebih sangar.Dia selalu saja mencoba membuat malu Sheila di depan teman-temannya dan menyuruh Sheila mengerjakan soal puluhan hingga ratusan bila Sheila membuat kesalahan sedikit saja.

“Iya juga sih.Tapi kenapa cuma karena polling kayak gitu aja dia jadi sentimen ama gue?”tanya Sheila tidak habis pikir.

“Lo tahu sendiri kan kalo harga diri nenek sihir itu tinggi banget.Dia tuh pingin selalu jadi yang no.1 di sekolah ini.Nggak boleh ada murid cewek yang ngalahin dia, apalagi guru.Polling itu ngebuat Bu Gita nyangka kalo lo tuh saingan yang harus disingkirkannya.Makanya lo harus hati-hati ama dia.Jangan cari masalah lagi.”kata Fitri dengan tidak sabar.

“Tapi gue kan nggak minta semua itu.”kata Sheila masih tidak habis pikir.

“Tenang aja, Shel.Bukan cuma lo kok yang disadisin ama Bu Gita.Anak koran sekolah, guru, ama murid cewek yang ada di polling itu semuanya juga disadisin ama Bu Gita.”kata Fitri.

Sheila tidak berkata apa-apa lagi.Dia agak syok juga mengetahui kenyataan di balik kebencian Bu Gita kepadanya.Setelah agak lama terdiam, Sheila menoleh ke kiri dan kanan seakan seperti baru teringat akan sesuatu.

“Lho, Ruri mana?”tanya Sheila.

“Tahu sendiri-lah kalo abis disuruh lari ama Pak Ketut pasti dia bakal nggak masuk 1 minggu.”kata Fitri.

Sheila manggut-manggut.Walaupun Ruri cerewet dan kadang menyebalkan, di saat-saat seperti ini Sheila merasa ketidakhadiran Ruri di antara dia dan Fitri membuatnya merasa ada sesuatu yang kurang.

“Oh iya, Fit.Ntar pulang sekolah anterin gue beli gaun ya.”pinta Sheila.

“Beli gaun?Buat apa?Perayaan kawin perak lo masih lama kan?”kata Fitri.

“Ngaco.Gaun itu buat dateng ke pestanya mertua gue.Temenin ya, Fit?” Sheila memohon.

“Iya, tapi abis itu anterin gue ke rumah Ruri.Gue mau foto di abangnya.”kata Fitri.

Abang Ruri, Ferry, mempunyai studio foto di sebelah rumahnya.Walaupun studionya tidak begitu bagus tapi hasil foto Ferry mengalahkan studio foto yang lain.Selain karena pintar memanipulasi foto, dia juga pintar mengarahkan gaya sehingga objek foto terlihat sangat alami dan cantik (atau tampan bagi cowok).

ííí

Sheila merebahkan diri dengan lelah di kasurnya.Seharian tadi dia mencari gaun kemana-mana bersama Fitri lalu ke rumah Ruri.Jelas dia capek luar biasa.Perutnya juga masih agak sakit karena makan bakso over dosis tadi pagi.Rasanya Sheila malas pergi ke pesta itu, tapi karena itu pesta mertuanya mau tidak mau dia harus datang setidaknya untuk menunjukkan rasa hormat.

Sheila mulai bersiap-siap untuk mandi ketika tiba-tiba Hpnya berbunyi.Dia mengangkatnya dengan malas.

“Hallo.”kata Sheila diselingi uapan lebar.

“Hallo.Ini Sheila ya?”balas suara di seberang yang tak lain dan tak bukan adalah……..Kevin.Walaupun suaranya tidak jelas karena di sekitarnya ramai, Sheila masih bisa mengenali suaranya.

“Iya.Ini Kevin kan?”kata Sheila dengan suara lebih ceria.

“Kok tahu sih?Gue kan jarang nelepon lo.”kata Kevin.

“Tahulah, gue kan sakti.”kata Sheila.Kevin tertawa.

“Lo ganti nomer ya?”tanya Sheila.

“Ini Hp bokap gue.Sekarang gue lagi nggak ada di rumah.Gue ada di pesta perusahaan bokap gue.”kata Kevin”Gue dipaksa ikut, padahal gue males banget.Sekarang gue bete banget.Lo mau kan nemenin gue?”

Sheila sudah mau menjawab ‘ya’, tapi mengingat pesta mertuanya sudah mulai sejak setengah jam yang lalu, Sheila dengan berat menjawab,”Sori, Vin, gue nggak bisa.Gue ada acara.”

“Ama pacar lo ya?”tanya Kevin.

“Bukan kok.Lagian gue nggak punya pacar.”kata Sheila.Dia tidak bohong kan?Dia memang tidak punya pacar, tapi dia punya suami.

“Ya udah deh kalo gitu.Makasih ya, Shel.Bye.”Kevin menutup telepon.Sheila mendesah kecewa, lalu mulai berjalan ke kamar mandi dengan gontai.

15 menit kemudian Sheila sudah berdiri di depan cermin meja riasnya.Dia sedang mengagumi penampilannya.Tapi gedoran-gedoran di pintu penghubung membuat mukanya langsung kusut.

“Ayo, kita sudah terlam……”kata-kata Eric langsung terhenti ketika melihat penampilan Sheila.Sheila memang kelihatan sangat cantik malam itu dengan balutan gaun satin hitam yang memperlihatkan sebagian kakinya yang indah.

Sheila langsung kikuk ketika tatapan Eric tidak juga berpaling darinya.Dia cepat-cepat membalikkan badan dan mengambil tasnya yang ada di meja rias.

“Ayo, tunggu apa lagi.”kata Sheila dengan agak gugup karena Eric masih terus memandanginya.

Segera saja mereka sudah ada di dalam mobil dan tidak sampai 15 menit, mereka sampai di Hotel Bidadari, salah satu hotel yang dimiliki oleh keluarga besar Eric dimana pesta sedang dilangsungkan.

“Aduh, kemana saja kalian?Kalian lama sekali, jadi kami terpaksa memulai pesta tanpa kalian.”kata ibu Eric begitu mereka datang.

“Maaf, bu.Tadi saya mandi kelamaan.”kata Sheila sambil tersenyum.

“Yah….tidak sia-sia kamu mandi lama-lama.Malam ini kamu cantik sekali.”puji ibu Eric.Sheila langsung tersipu.

“Menantunya siapa dulu dong,”kata ayah Eric sambil menepuk punggung Eric keras.Eric yang sedang makan kue nastar langsung tersedak.

“Kalian makan-makan saja dulu.Kami harus menyambut tamu yang lain.”kata ibu Eric ramah.Sheila hanya mengangguk, tapi dia sudah bersumpah dalam hati tidak akan makan apa-apa selama 5 hari setelah makan 30 mangkok bakso tadi pagi.

Beberapa saat kemudian, ayah dan ibu Eric sudah terlihat mengobrol dengan tamu yang lain, sementara Eric dan Sheila berdiri di tempat sambil memperhatikan tamu-tamu lain.Kadang-kadang ada yang menyapa Eric dan mengajaknya ngobrol, tapi itu cuma berlangsung sekitar 5 menit.Jelas tidak ada yang menyapa Sheila, apalagi mengajaknya ngobrol karena tidak ada satupun yang mengenalinya.

Rasanya Sheila nyaris mau mati saking bosannya.Tidak ada yang bisa diajaknya mengobrol, karena tidak ada tamu yang sebaya dengannya.Nyaris semuanya bapak-bapak dan ibu-ibu.Tapi benar kata orang.Pasti ada satu di antara seribu.Dan benar saja, tiba-tiba tatapan Sheila terpaku pada sosok seorang cowok yang berdiri agak jauh dari tempatnya.Penampilannya cuek dan mukanya kelihatan bosan.Tapi yang pasti cowok itu seumuran dengannya.

Dengan Eric di sebelahnya, Sheila jelas tidak bisa bergerak kemana-mana, apalagi untuk menghampiri cowok tidak dikenal.Dia juga tidak ingin memalukan mertuanya.Lagipula dia gengsi menghampiri cowok lebih dulu walaupun hanya untuk sekedar teman ngobrol.Tapi tak urung Sheila terus memperhatikan cowok itu.

Karena jarak Sheila dan cowok itu lumayan jauh, muka cowok itu tidak begitu jelas.Tapi Sheila merasa mengenalnya.Perawakannya yang kekar, gayanya yang cuek sangat mirip dengan……Sheila langsung merasa seperti disambar petir.Itu Kevin, tidak salah lagi.

Sheila langsung kalang kabut.Dia langsung sembunyi di belakang kue tart setinggi hampir 1 meter yang ada di tengah meja hidangan.Eric menghampirinya dengan heran.

“Kenapa, Shel?”tanya Eric.

“Ada temanku di sini.”kata Sheila.

“Di mana?”tanya Eric sambil melihat sekeliling mencari-cari.

“Tadi ada kok di sana.”Sheila menunjuk ke arah berlawanan dari tempat Kevin berdiri.”Mungkin sekarang sudah membaur dengan tamu-tamu.Gimana nanti kalau dia muncul di sini?”

“Kamu yakin itu temanmu?”tanya Eric tidak yakin.

“Yakin banget.”kata Sheila.

Selama sepersekian detik, Eric merasa tidak yakin.Tapi melihat kepanikan Sheila, dia pun langsung percaya.

“Ayo keluar.”Eric menarik tangan Sheila keluar ruangan pesta.Tepat pada saat itu Hp Sheila berbunyi.Sheila langsung panik ketika melihat kalau yang menelepon adalah Kevin yang memakai Hp ayahnya.

“Siapa?”tanya Eric.

“Fitri.”Sheila berbohong.

“Ya udah kalo gitu.Mendingan kamu sekarang pulang duluan aja.Nanti aku bilangin ke ayah dan ibu apa sebabnya.Nih, bawa mobilku.”Eric mengangsurkan kunci mobilnya.Sheila langsung menyambarnya dan cepat-cepat berlari ke parkiran.

Sesampai di rumah, tanpa berganti pakaian, Sheila langsung menelepon Fitri dan menceritakan tentang Kevin di pesta mertuanya.Fitri langsung terkaget-kaget.

“Kok dunia sempit banget sih ampe lo harus ketemu dia di sana.”kata Fitri tidak habis pikir.

“Gue juga nggak tahu, Fit.Untung aja gue nyadar.Kalo ampe ketahuan gue udah nikah ama Eric, bisa lari deh dia.”kata Sheila.

“Barusan lo bilang apa?”tanya Fitri.

“Nggak, lupain aja.”jawab Sheila cepat.

Sejenak mereka diam, lalu Fitri bertanya,”Tapi kok Kevin ada di pesta itu sih?”

“Kayaknya sih bokapnya kerja di sana.”kata Sheila teringat percakapannya dengan Kevin ketika dia mau pergi ke pesta.

“Dan gue juga penasaran ama 1 hal.”kata Fitri.

“Apa?”tanya Sheila.

“Bukannya lo ada PR dari Bu Gita?”kata Fitri.

Sheila langsung menepuk dahi,”Aduh, kok gue bisa lupa sih.Thanks ya, Fit.”

Sheila segera menyudahi percakapannya dan mengambil kumpulan soalnya.Eric belum datang, jadi dia harus mengerjakan sendiri.Ternyata walaupun berulangkali dibaca, Sheila tidak mengerti satupun soal-soal yang ada.Dia malah mengantuk.Tapi dia tidak mau menggantungkan diri pada Eric terus.Sebentar lagi dia EBTANAS.Setidaknya dia kan harus mengerti rumus soal-soal itu.

Sheila membuka-buka buku PR matematikanya yang semuanya dikerjakan oleh Eric, lalu dia mencari soal-soal yang mirip dengan yang sudah dikerjakan Eric dan mencoba mengerjakannya.

Sheila luar biasa senang ketika berhasil mengerjakan 1 soal, sehingga dia lebih semangat mengerjakan soal yang lainnya.Tapi, ketika menginjak soal no.50 ke atas, Sheila mulai berpusing ria.Masalahnya di buku PR-nya tidak ada soal-soal yang mirip dengan soal-soal itu.

Sheila langsung kehilangan semangat untuk mengerjakan.Dia membereskan PR-nya dan memutuskan untuk mengisi diary-nya saja.Kejadian malam itu harus diabadikannya.

Dear my diary…

Malam ini mertuaku mengadakan pesta di hotel.Tentu saja aku harus datang setidaknya agar tidak mengecewakan orangtuaku.Tapi hampir saja aku mengalami bencana.Kevin ada di pesta itu.Sepertinya ayahnya bekerja di hotel Eric.

Ry…

Aku takut banget Kevin sampai tahu kalau aku sudah menikah.Dia-lah pacar yang kuimpi-impikan dan aku ingin sekali merasakan kencan pertama dengannya.Tapi bisakah kami bersatu?

Sheila meletakkan pulpennya dengan mengantuk lalu dia tertidur tanpa sempat mengganti gaunnya dan membereskan diarynya.

Tidak lama kemudian, Eric kembali.Dia sangat lelah dan juga sangat mengantuk.Tapi sebelum tidur, dia menyempatkan diri untuk melihat Sheila.Dia tersenyum ketika dilihatnya Sheila sudah tertidur pulas.Eric menyelimuti Sheila dan membereskan buku-buku yang berserakan di sekitarnya.Lalu sebuah diary mungil yang terbuka menarik perhatiannya.

Eric sempat ragu-ragu untuk mengambilnya.Dia tidak mau menganggu privasi Sheila.Tapi keingintahuannya menang.Dia mengambil diary itu dan mulai membacanya dengan cepat.Isi diary itu tidak mengejutkannya, tapi ada getar-getar aneh yang menyelubungi hatinya.Bukan getar marah, tapi lebih tepatnya getar cemburu.Dia cemburu karena Sheila menyukai Kevin.

ííí

Paginya Sheila terbangun dengan mengantuk.Tapi kepanikannya mengusir rasa kantuknya.Dia belum selesai mengerjakan PR matematika yang itu berarti dia akan mendapat tugas tambahan dari Bu Gita.Sheila menggerutu dan mencari-cari PR-nya di dekat tempatnya tidur, tapi PR-nya tidak ada dimanapun.

Kepanikan Sheila langsung naik 100 x lipat.Dia langsung mengobrak-abrik kamarnya, mencari PR-nya.Tapi sia-sia saja, PR-nya raib.

“Mencari PR-mu?”

Sheila langsung terlonjak kaget dan menoleh dengan sangat cepat hingga dia mengira lehernya pasti patah.Eric berdiri di pintu penghubung sambil membawa buku dengan sampul biru yang tak lain dan tak bukan adalah buku PR-nya.

“Kok PR-ku bisa ada di kamu sih?”tanya Sheila.

“Harusnya kamu berterima kasih.PR-mu sudah kukerjakan sampai selesai.”kata Eric dingin.

“Terima kasih.”kata Sheila terpaksa.

“Nih.”Eric melempar buku PR Sheila ke atas tempat tidur, lalu menutup pintu penghubung.

Sheila membuka-buka buku PR-nya dan langsung lega karena Eric tidak berbohong.PR-nya sudah dikerjakan sampai tuntas.Kepanikannya langsung luntur seketika, tapi kemudian dia mulai panik lagi.

Buku diarynya tidak ada di tempat tidurnya.Sheila mencari-carinya dan menemukannya di atas meja belajarnya dalam keadaan tertutup.Dia menggigit jari.Apa Eric membacanya?batinnya.

ííí

2 hari setelah itu Eric jarang terlihat di rumah.Dia selalu bangun pagi dan berangkat ke hotel sebelum Sheila bangun dan pulang setelah Sheila tertidur.Akibatnya, Sheila terpaksa mengerjakan PR-nya sendiri setiap malam.

Pada hari ketiga, Sheila memutuskan untuk mencari tahu ada apa dengan Eric sepulang sekolah nanti.Tapi ternyata dia tidak perlu menunggu sampai pulang sekolah.

Ketika dia sampai di sekolah, Ruri heboh soal adanya guru Fisika baru yang menggantikan Pak Ketut yang sedang berobat untuk sementara.Sheila tidak begitu ambil pusing.Baginya siapapun yang mengajar, Fisika tetap sama susahnya.

“Gue jadi deg-degan nih.”kata Ruri ketika bel sudah berbunyi.

“Palingan juga guru baru itu nggak jauh beda ama Pak Ketut.”kata Sheila cuek.

“Jelas beda jauh banget dong, Shel.Guru baru itu masih muda dan kabarnya cakep banget.Bu Gita aja sampe nggak bisa mingkem saking terpesonanya.”kata Ruri semangat.

“Namanya juga gosip.Bisa aja mengada-ada kan?”kata Sheila.Tapi tak urung dia penasaran juga.

Beberapa menit kemudian, kepala sekolah masuk ke kelas.Anak-anak langsung terdiam.

“Anak-anak, seperti kalian sudah ketahui, kita kedatangan guru baru khusus untuk pelajaran Fisika.Nah, sekarang bapak akan memperkenalkannya pada kalian.Pak Eric, silakan masuk.”kata kepala sekolah.

Sheila, Ruri, dan Fitri serentak melongo ketika melihat Eric masuk ke dalam kelas.Ruri saking terkejutnya sampai memekik.Fitri dan Ruri langsung menyodoknya.

“Namanya Pak Eric.Dia hanya menggantikan Pak Ketut untuk sementara waktu (anak-anak cewek langsung mengeluh kecewa).Walaupun begitu, kalian harus tetap bersikap baik padanya.”kata kepala sekolah.

Anak-anak cewek berseru ‘ya’ dengan semangat, sedangkan anak-anak cowok mendengus tidak senang.

“Baiklah, silakan memulai pelajaran pertama anda Pak Eric.”kepala sekolah meninggalkan kelas.

Eric berdeham pelan, lalu berkata,”Di hari pertama ini, saya ingin kalian memperkenalkan diri satu-satu dimulai dari depan.”kata Eric.

Selama anak-anak memperkenalkan diri, Fitri, Ruri, dan Sheila yang duduk di bangku belakang berbisik-bisik dengan serius.

“Ngapain sih si Eric pake jadi guru di sini segala.”kata Sheila jengkel.

“Mana gue tahu.”kata Ruri.

“Um…kelihatannya karena Kevin deh.”kata Fitri.

“Darimana dia tahu soal Kevin?”kata Sheila heran.Lalu dia teringat tentang buku diarynya yang sudah tertutup dan langsung menepuk dahi.

“Buku diary gue.Pasti dia baca buku diary gue.”kata Sheila geram.

“Emang buku diary lo isinya apa, Shel?”tanya Ruri.

“Jelas tentang Kevin-lah, Ri.”kata Fitri sinis.

“Lagian peduli apa sih dia kalo gue suka ama Kevin.Selama ini kan di antara kita nggak pernah ada feeling.”kata Sheila.

“Itu kan pikir lo, Shel.Siapa tahu seiring berjalannya waktu perasaan dia ke lo berubah lain.”kata Fitri bijaksana.

Sheila termenung, tapi dia langsung meyakinkan hatinya kalau itu tidak mungkin terjadi.Tapi bagaimana kalau itu benar?

“Sheila”

Sheila langsung tersadar dari lamunannya.Dilihatnya semua anak tengah memandanginya, termasuk Eric.Sheila melirik Fitri dengan bingung.

“Giliran lo memperkenalkan diri.”bisik Fitri.

“Buat apa?Dia kan udah tahu pasti siapa gue.”Sheila balas berbisik.

“Tapi anak-anak lain kan nggak tahu kalo kalian udah saling kenal.”bisik Fitri.

Sheila membenarkan kata-kata Fitri dalam hati, lalu dia berdiri dan mulai memperkenalkan diri,”Nama saya Marsheila Avrianita, umur 17 tahun, tinggi badan 171 cm, berat badan 55 kg.Apa itu cukup?”tanya Sheila pada Eric yang langsung disambut tawa oleh teman-temannya.

“Saya harap kamu tidak main-main, Marsheila Avrianita.Kamu tidak mau kan kalau di kelas 3 ini nilai fisikamu saya beri nilai 5”kata Eric dingin.Anak-anak langsung terdiam.Muka Sheila merah padam saking marahnya.

“Ayo, perkenalkan dirimu sekali lagi.Sebutkan nama, alamat, dan umurmu dengan jelas.”kata Eric.

Sheila memperkenalkan dirinya sekali lagi dengan enggan,”Nama saya Marsheila Avrianita.Alamat jalan Dharmawangsa Tengah no.105 (Sheila memakai alamat orangtuanya).Umur 17 tahun.”

“Nah, begitu lebih baik.Sekarang kita mulai pelajaran.”kata Eric.

Sheila benar-benar marah karena Eric telah mempermalukannya di depan teman-temannya. Saking marahnya, dia tidak memperhatikan satupun apa yang dikatakan Eric selama pelajaran.

“Marsheila Avrianita, kerjakan soal-soal latihan hal.150 no.1-50 sebagai PR tambahan karena kamu sama sekali tidak memperhatikan.”kata Eric di akhir pelajaran.Sheila menggertakkan gigi menahan marah.

“Apa sih maunya?Kenapa dia nggak pernah berhenti ngancurin hidup gue?”Sheila marah-marah.

Saat itu jam istirahat.Sheila, Ruri, dan Fitri duduk-duduk di kantin sambil menyeruput es teh.

“Mungkin dia udah capek lo remehin.Bagaimanapun dia kan suami lo, tapi lo nggak pernah ngehormatin dia sebagai suami lo.”kata Fitri bijaksana.

“Siapa juga yang minta dia jadi suami gue?Dia udah ngehancurin hidup gue, jadi buat apa gue ngehormatin dia.”kata Sheila.

“Selama ini kan dia udah bersikap baik ama lo, Shel.Dia memenuhi kebutuhan lo sebagai suami.Dia ngerjain PR lo.Dia nggak pernah maksa lo ngelakuin apa pun buat dia.Tapi apa lo pernah bersikap jadi istri yang baik?Setidaknya apa lo pernah masakin dia?Enggak kan?”kata Fitri.

Sheila terhenyak.Dia mengakui dalam hati kalau kata-kata Fitri itu benar.Tapi dia tetap mengelak.

“Tapi gue kan udah bersikap baik ama orangtuanya.Gue juga nggak pernah minta apa-apa ke dia.”kata Sheila keras kepala.

“Ya terserah lo deh, Shel.”kata Fitri capek.

Selama beberapa saat mereka menyeruput teh masing-masing dalam diam, sampai tiba-tiba Ruri menyodok Sheila keras.

“Apaan sih?”kata Sheila sebal.

“Arah jam 9”kata Ruri.

Sheila menoleh ke arah jam 9 dan dilihatnya Eric berjalan melewati kantin dengan Bu Gita menggelayut manja di lengannya.Sheila luar biasa geram melihatnya.

“Suami yang baik ya.”sindir Sheila.

“Lo sendiri kan juga mesra-mesraan ama Kevin.”kata Fitri.

Sheila menggebrak meja dengan marah, lalu pergi meninggalkan kantin.

“Shel.”panggil Ruri.

“Biarin aja.”cegah Fitri ketika Ruri mau mengejar Sheila.

Malamnya Sheila marah-marah dan membanting semua yang ada di kamarnya (Eric belum datang).Dia marah karena Eric sudah mempermalukannya di depan teman-temannya.Selain itu dia juga marah karena Eric bermesraan dengan Bu Gita di depan matanya.

Lalu dia berpikir-pikir.Kenapa dia mesti marah hanya karena Eric bermesraan dengan Bu Gita?Itu bukan urusannya.Tapi entah kenapa hatinya tidak bisa mendingin, akibatnya kepalanya jadi pusing.

Sheila berusaha untuk mengabaikannya lalu mencoba untuk tidur.Walaupun akhirnya bisa tertidur, dia tertidur dengan resah.

Sekitar jam 11, Eric pulang.Seperti biasa sebelum tidur, dia menyempatkan diri untuk melihat Sheila.Tapi yang didapatnya hanyalah pintu penghubung yang terkunci.Eric mencoba pintu depan, tapi sama saja.Akhirnya dia menyerah, lalu tidur dengan perasaan tidak enak.

ííí

Esoknya, Sheila ke sekolah dengan muka kusut.Tadi dia bangun jam 2 malam karena mimpi buruk tentang Bu Gita yang berubah menjadi monster.Ada untungnya dia bermimpi begitu karena ternyata dia belum mengerjakan PR Matematika.

Sheila berulangkali memijit kepalanya karena pusing.Kedua sahabatnya belum datang karena dia memang datang terlalu pagi.Sheila memutuskan untuk tidur sebentar sampai bel masuk berbunyi.

Sheila merasa seperti melayang.Rasanya dia ingin terus tidur.Dia ingin terus begitu.Tapi suara-suara aneh di kejauhan mengusiknya.Semakin lama suara itu semakin dekat, lalu akhirnya terdengar jelas.

“Bu, tangannya bergerak.”terdengar suara Fitri.

Sheila perlahan membuka matanya.Sejenak pandangannya silau lalu semuanya langsung menjadi jelas.Dia berada di suatu ruangan serba putih dan tengah terbaring di atas tempat tidur yang juga berseprai warna putih. Akhirnya dia tersadar kalau dia sekarang berada di UKS.

“Sheila, bagaimana perasaanmu?”tanya Bu Siska, dokter UKS.

“Memangnya saya kenapa, bu?”tanya Sheila tidak mengerti.

“Tadi lo pingsan di kelas.”kata Ruri.

“Gue tadi kan cuma tidur bentar.”kata Sheila.

“Lo emang tidur, tapi nggak bisa dibangunin.Ruri sampe ketakutan lo udah koit.”kata Fitri.

“Badan kamu panas sekali, Sheila.Lebih baik kamu beristirahat di sini.Nanti Fitri yang akan mengantarmu pulang.”kata Bu Siska lembut.

“Baik, bu.”kata Sheila.

“Ibu tinggal dulu ya.Kalian berdua (berbicara kepada Ruri dan Fitri) tolong jaga Sheila ya.”kata Bu Siska.

“Beres, bu.”kata Ruri.

Bu Siska tersenyum, lalu pergi meninggalkan UKS.Sepeninggalnya, Ruri langsung bercerita dengan heboh,”Tadi Kevin kelabakan benget lho waktu ngeliat lo nggak bangun-bangun.”

Sheila langsung bersemangat,”Terus gimana, Ri?”

“Dia langsung gendong lo ke UKS.”kata Ruri tanpa memperhatikan tatapan tajam Fitri.

“Bener nih, Ri?”tanya Sheila tidak percaya.

“Eric juga khawatir banget kok ma lo.Tadi dia terus-terusan nyari alasan ke UKS biar bisa ngeliat keadaan lo.”kata Fitri cepat-cepat.Tapi Sheila tidak mendengarkannya.Yang ada di pikirannya hanya Kevin, Kevin, dan Kevin.

ííí

Eric merasa amat bersalah karena tidak tahu sama sekali kalau Sheila sakit.Mungkin karena rasa bersalahnya itu, Eric kembali membantu Sheila mengerjakan PR dan pulang lebih awal dari biasanya.Sheila yang masih kesal karena sikap Eric waktu di kelas dan karena kedekatan Eric dengan Bu Gita tentu saja menanggapi semua perhatian Eric dengan dingin.Baginya sekarang yang penting dia tidak kehilangan perhatian Kevin.

Mungkin karena sikap Sheila yang terus-terusan dingin, Eric kembali jarang di rumah.Sheila menduga Eric bersama Bu Gita.

“Nggak mungkin gitu lho Eric ama Bu Gita.”kata Fitri ketika Sheila menceritakan dugaannya.

“Terus kemana dong dia?”kata Sheila keras kepala.

“Lo tahu sendiri kan kalo Eric itu pekerja keras.Mungkin aja dia lembur di hotel atau dinas keluar kota.Lagian lo juga dingin banget ama dia.Dia mana tahan di rumah terus.”kata Fitri.Ruri manggut-manggut menyetujui Fitri.

Sebelum Sheila sempat membalas, bel masuk setelah istirahat berbunyi.Karena setelah itu pelajaran Bu Gita, mereka cepat-cepat masuk kelas.

“Keluarkan buku latihan soal dan buka halaman 156.”kata Bu Gita tanpa basa-basi ketika masuk ke kelas.

Sheila membuka-buka buku latihan soalnya, mencari halaman 156.Tapi ketika dia sampai di halaman 129, dilihatnya sepucuk surat terselip di sana.Sheila memungutnya dengan heran, lalu membacanya dengan sembunyi-sembunyi di bawah meja.

DEAR SHEILA……

BESOK TEPAT 3 TAHUN KITA

MENIKAH.AKU INGIN KITA MAKAN MALAM

BERDUA DI RESTORAN HOTEL.

AKU HARAP KAMU DATANG JAM 8 NANTI MALAM.

AKAN KUTUNGGU SAMPAI KAPANPUN JUGA.

ERIC

Sheila melipat kembali surat itu dan meletakkannya di halaman tempat dia menemukan surat itu, lalu cepat-cepat membuka halaman 156.

“Sheila, kerjakan soal no.1-10 di depan.”kata Bu Gita.

Sheila untuk pertama kalinya senang ketika disuruh maju karena soal-soal itu pernah dikerjakannya sebelumnya (sewaktu diberi hukuman) jadi dia merasa bisa mengerjakannya.Tapi dia tidak mau terlihat senang.Bisa-bisa dia disuruh mengerjakan soal ekstra.

Sheila pura-pura bingung waktu melihat soal, agar Bu Gita puas melihatnya tampak bodoh.Lalu dia mulai mengerjakannya sepelan mungkin dengan masih memasang tampang bingung.

Ketika menginjak soal no.8, Hp Bu Gita berbunyi.Bu Gita mengeluarkan Hp-nya dan menerima telepon yang masuk sambil berbisik.Sheila menajamkan telinganya, ingin tahu siapa yang menelepon Bu Gita.

“Halo sayang, kamu lagi dimana?Kok nggak ke rumahku sih?”kata Bu Gita manja.Walaupun Bu Gita berbicara dengan suara nyaris berbisik, Sheila bisa mendengarnya dengan jelas karena selain tadi pagi dia baru membersihkan telinga, jaraknya dengan meja Bu Gita tidak sampai 1 m.

“Dasar, mentang-mentang diterima jadi guru baru kamu jadi sombong.Pokoknya kalau lagi nggak ada jam ngajar kamu harus ke rumahku ya.Awas kalau nggak.”kata Bu Gita lagi.

Kepala Sheila langsung berdenyut mendengarnya.Mengajar?Guru baru? Sheila langsung menghubungkan kedua kata itu dan tahulah dia siapa yang menelepon Bu Gita.Itu pasti Eric.

Sheila merasa kemarahan menjalari tubuhnya.Ternyata Eric berselingkuh dengan Bu Gita tanpa sepengetahuannya, padahal dia selalu menolak ketika Kevin memintanya menjadi pacarnya karena dia masih merasa kalau statusnya adalahnya istri Eric walaupun sebenarnya dia menyukai Kevin.Tapi kenyataannya Eric sama sekali tidak memandang statusnya sebagai suami Sheila.

Sheila dengan kesal merobek-robek surat yang diselipkan Eric di bukunya ketika dia sudah kembali ke tempat duduknya.Dia memutuskan untuk tidak datang.

“Kenapa sih lo?”tanya Fitri ketika sewaktu istirahat muka Sheila kelihatan bete.

“Gue nggak pa-pa kok.Abisin aja gado-gado gue.Gue lagi nggak nafsu.”kata Sheila dengan nada sewajar mungkin.Dia malas bercerita dengan Fitri karena dia selalu dipojokkan.

Fitri sempat curiga, tapi kemudian dia mengangkat bahu dan meneruskan makan gado-gadonya.Sementara itu Ruri memakan sisa gado-gado Sheila yang nyaris belum tersentuh.

“Hai, Shel.”seseorang menepuk pundak Sheila lembut.Sheila menoleh dan dilihatnya Kevin berdiri di belakangnya sambil tersenyum.Sheila langsung gelagapan.

“Hai juga, Vin.”balas Sheila gugup.

“Gue boleh ngomong bentar nggak?”tanya Kevin.

“Boleh, mo ngomong apa?”Sheila balik tanya.

Kevin melirik Fitri dan Ruri dengan tatapan penuh arti.Sheila langsung paham dan dia pun beranjak dari kursinya.

“Gue duluan ya.”Sheila berpamitan dengan kedua sahabatnya, lalu berjalan mengikuti Kevin.

Kevin berhenti di tangga di sebelah laboratorium, lalu memandang Sheila dengan lekat.Sheila langsung salah tingkah.

“Shel, lo tahu banget kan kalo gue sayang banget ama lo.”Kevin membuka pembicaraan.

“Vin, gue kan udah bilang berulangkali kalo gue nggak bisa jadi pacar lo.”kata Sheila tegas.Keputusan bodoh, batin Sheila, padahal ini kesempatan untuk membalas Eric yang sudah berselingkuh.Tapi dia bukan cewek seperti itu.Setidaknya dia harus menuntaskan hubungannya dengan Eric sebelum memulai dengan Kevin.

“Udah gue duga pasti jawaban lo kayak gitu.”kata Kevin dengan nada kecewa yang kentara.

Rasanya Sheila ingin berteriak pada Kevin bahwa dia juga menyukainya.Seandainya keadaannya tidak seperti ini pasti sejak dulu dia akan berkata ‘ya’.

“Sori banget, Vin.”kata Sheila dengan perasaan bersalah.

Kevin tersenyum, “Nggak usah ngerasa bersalah gitu dong, Shel.Nyantai aja lagi.”

Sheila ikut tersenyum, tapi dia masih merasa tidak enak.

“Jangan ngerasa bersalah terus dong.Gue kan jadi nggak enak.”kata Kevin.”Gini aja deh.Biar lo ngerasa enakan, besok malem lo harus dateng ke ultah gue.Gimana?”

Sheila terhenyak.Besok malam?Itu kan bertepatan dengan ajakan makan malam Eric.

“Lo nggak bisa ya?”tanya Kevin seakan bisa melihat kebimbangan yang ada di mata Sheila.

“Gue bisa kok.Dimana?Jam berapa?”kata Sheila cepat-cepat.

Kevin tersenyum senang,”Di Blue Cafe jam 8.Rumah lo dimana sih?Ntar gue jemput.”

“Eh, jangan, jangan.Ortu gue killer banget.Mending gue aja yang langsung ke sana.”kata Sheila.

“OK deh kalo gitu.Gue tunggu.Duluan ya.”kata Kevin sambil berlalu.

Sepeninggal Kevin, Sheila kembali bimbang.Tapi mengingat perselingkuhan Eric dengan Bu Gita, Sheila merasa ini hukuman yang pentas diterima Eric.Lagipula tidak mungkin Eric akan menunggunya sampai kapanpun seperti katanya.

ííí

Esok malamnya, Sheila pergi dengan taksi ke Blue Cafe.Dia terlambat setengah jam karena sibuk berdandan secantik mungkin.

“Shel, lo cantik banget.”puji Kevin ketika melihat Sheila.Sheila langsung tersipu mendengarnya.

Malam itu Blue Cafe luar biasa ramai.Tapi sepertinya semua yang ada di situ adalah teman-teman Kevin yang semuanya tidak dikenalnya.

“Ayo duduk.”ajak Kevin.Sheila mengikuti dengan canggung.

Sheila didudukkan di sebuah kursi melingkar bersama dua orang teman Kevin yang sedang berpacaran.

“Shel, ini temen gue, Meta dan Boy.”kata Kevin memperkenalkan kedua temannya itu.

“Hai, gue Sheila.”kata Sheila sambil mengulurkan tangan.Tapi tidak ada balasan dari Meta maupun Boy.Sheila langsung menarik uluran tangannya.

“Jangan terlalu dipikirin.Mereka kalo lagi pacaran emang nggak suka diganggu.”kata Kevin menenangkan.”Lo tunggu dulu di sini ya.Gue ambilin minum.”

Kevin berlalu dari hadapan Sheila.Sheila langsung merasa asing ketika ditinggal sendirian apalagi Meta dan Boy sama sekali tidak menganggapnya ada.,Mereka malah…..berciuman.Sheila langsung memalingkan muka.Kok mereka tidak malu melakukannya di depan umum?batinnya.

Tapi ternyata pemandangan itu tidaklah langka di tempat itu.Di setiap sudut, di bar, bahkan di lantai disko banyak pasangan yang seperti itu.Sheila langsung merasa jijik.Sebenarnya ini pesta apa?batinnya.

Sheila beranjak dari tempatnya dan berjalan menuju pintu keluar.Dia memutuskan untuk kabur sebelum Kevin kembali.

“Lho, Shel,mau kemana?”tegur Kevin ketika Sheila sudah separo jalan ke pintu keluar.

“Mmmm…tiba-tiba gue ngerasa nggak enak badan, Vin.Gue mau istirahat aja di rumah.”kata Sheila.

“Tapi gue udah ngambilin minum buat lo.”kata Kevin.

“Sori banget, Vin.Gue bener-bener pingin istirahat.”kata Sheila.

Kevin tampak kecewa.

“Gini aja, gue minta lo temenin gue 10 menit aja.Temenin gue minum, plis.”Kevin memohon.

Sheila luluh juga, lalu dia berkata,”OK deh.10 menit aja ya.”

Tapi 10 menit tiba dan berlalu.Sheila malah mabuk berat sampai jam menunjukkan pukul 11.

“Ayo tambah lagi, Shel.”kata Kevin sambil menambahkan minuman ke gelas Sheila.

“Thanx…Vin..Nggak…usah.”kata Sheila terbata-bata.Kepalanya luar biasa pusing.Rasanya dia ingin pulang dan tidur di rumah.Tapi setiap dia beranjak, teman-teman Kevin langsung menariknya duduk kembali.

“Nanti dulu dong, Shel.Pestanya kan belum selesai.”kata salah satu teman Kevin.

“Habis ini kita bakal bersenang-senang lagi di tempat lain.Lo harus ikut.”kata Kevin.

“Nggak…Vin…Gue….m..mau…pulang.”kata Sheila.

Tapi Sheila jelas-jelas tidak akan bisa pulang dalam keadaan seperti itu.Kepalanya pusing.Tubuhnya lemas.Dia bahkan tidak bisa memberontak ketika Kevin dan teman-temannya memasukkannya ke mobil dan membawanya entah kemana.

Setelah agak lama berada di mobil yang penuh sesak, Sheila kembali merasakan udara segar.Rupanya mereka sudah sampai di tujuan.Sheila, dengan kepala yang luar biasa pusing menoleh ke kanan dan ke kiri mencari tahu dimana dia.Lalu tahulah dia kalau dia dibawa ke hotel, Hotel Bidadari.

Sheila langsung memberontak,”L..lepasin…gue…Kenapa..g..g..gue dibawa..ke sini?L..lo semua…m..mau..a..apa?”

“Diem lo!”bentak Kevin.

“L..lepasin..g..gue..Kalo..nggak..g..gue…teriak.”ancam Sheila.

Kevin dan teman-temannya tertawa mengejek, lalu Sheila merasakan sesuatu yang tajam menusuk punggungnya.Kevin menodongkan sebuah pisau lipat ke punggung Sheila.

“Kalo lo teriak, gue jamin pisau ini bakal ngerobek punggung lo.”Kevin balik mengancam.

Rasanya Sheila mau menangis.Dia tidak menyangka semua ini akan terjadi padanya.Sekarang Sheila cuma bisa berharap ada salah satu karyawan Eric yang mengenalnya dan menyelamatkannya.

Sheila dipapah oleh salah seorang teman Kevin ke resepsionis, sementara Kevin mengurus kamar.Sheila memandang sang resepsioner, berharap sang resepsioner mengenalnya.Tapi tidak ada tanda-tanda sang resepsioner mengenalnya.Sheila pun menunduk dengan putus asa.Matanya mulai digenangi air mata.

“Maaf, anak di bawah umur dilarang menyewa kamar.Apalagi dengan membawa seorang gadis dalam keadaan mabuk.”

Sheila luar biasa senang ketika mendengar suara Eric.Dia langsung memberontak dan berkata dengan susah payah,”E..eric…., t..tolong..gue.”

Lalu dia tak sadarkan diri.

ííí

Pagi itu Sheila terbangun dengan kepala luar biasa pusing.Dia mendapati dirinya berada di kamarnya di rumah Eric.Di sekitarnya tidak ada siapa-siapa.Sheila malah merasa bersyukur karena dia belum siap bertemu siapapun juga.Dia merasa malu pada dirinya sendiri.Dia malu pada Eric.Dia malu pada kedua sahabatnya. Dia malu pada semua orang.

Rasanya Sheila ingin terus tidur.Dia ingin terbebas dari himpitan rasa bersalahnya.Dia tahu itu sangat pengecut, tapi dia terlalu putus asa untuk peduli.

“Selamat pagi.”

Sheila nyaris terlonjak kaget ketika mendengar suara Eric.Dilihatnya Eric berdiri di pintu penghubung sambil tersenyum.Sheila langsung memalingkan muka.Dia terlalu malu untuk menghadapi Eric.

“Kenapa?Kamu masih sakit?”tanya Eric sambil menghampiri Sheila.

Sheila menggeleng tanpa berani memandang mata Eric yang kini berdiri di hadapannya, lalu dirasakannya tangan Eric yang lembut menyentuh keningnya.

“Badanmu sudah nggak panas kok.Mungkin lusa kamu sudah bisa masuk sekolah.”kata Eric lembut.

Sheila semakin merasa bersalah dengan segala perhatian yang Eric berikan padanya.Kenapa Eric tidak marah sama sekali?batinnya heran.Sheila melirik Eric sekilas, lalu dilihatnya tangan Eric diperban.

“Itu….”Sheila menunjuk tangan Eric.Eric memandang tangannya yang diperban, lalu tersenyum menenangkan, “Nggak apa-apa kok.Cuma luka kecil.”

“Apa Kevin yang melakukannya?”tanya Sheila.

“Yah…memang sih.Dia panik waktu aku manggil satpam, terus dia nyabetin pisaunya ke tanganku dan berusaha kabur.Tapi tentu saja dia berhasil ditangkap dan sekarang dia di kantor polisi.”kata Eric.

“Memang pantas buat dia.”kata Sheila geram, lalu dia memandang Eric dan tangannya yang diperban dengan perasaan bersalah.Eric tersenyum lagi, lalu berkata,”Nggak usah dipikirin.”

Mata Sheila berkaca-kaca, lalu dia berkata dengan lirih,”Maafkan aku.”

Sheila merasa tangan kekar Eric mendekapnya dengan erat lalu dia merasa kehangatan menjalari tubuhnya.Dia merasa aman dalam pelukan Eric.Tapi kemudian dia teringat dengan Bu Gita sehingga dia langsung melepaskan pelukan Eric.

“Tapi ini semua juga salahmu.”kata Sheila.

“Kenapa?”tanya Eric.

“Kamu selingkuh kan dengan Bu Gita?”tuduh Sheila sengit.

Eric tampak kebingungan dituding seperti itu.

“Maksudmu apa sih?Aku nggak ada hubungan apa-apa dengan Gita.Memang sih dia sering menelepon dan mengajakku jalan-jalan, tapi waktu aku bilang kalau aku sudah punya istri, dia tidak pernah lagi meneleponku.”kata Eric.

“Tapi pacar Bu Gita guru baru.Siapa lagi kalau bukan kamu?”kata Sheila keras kepala.

“Guru baru dimana?’tanya Eric.

“Guru baru di…..”tiba-tiba Sheila langsung merasa bodoh.Bu Gita sama sekali tidak menyebutkan ‘guru baru di sini’.Dia cuma bilang ‘guru baru’.Kenapa dia bisa melewatkan hal sepenting itu dan keburu mengambil kesimpulan?

Sheila merasa mukanya memerah karena malu.Eric tersenyum lembut padanya lalu berkata,”Istirahatlah.”Lalu dia berlalu dari hadapan Sheila.

ííí

2 hari kemudian Sheila masuk sekolah.Kedua sahabatnya langsung menyambutnya dengan heboh.

“Sheila, gue kangen deh ma lo.”kata Ruri sambil memeluk Sheila erat.

“Iya, gue juga kangen ma lo.”kata Sheila.

“Lo baek-baek aja kan?”tanya Fitri.

“Seperti yang lo liat, gue sehat wal afiat.”kata Sheila.

“Bagus deh kalo gitu, karena gue ama Ruri belum bisa maafin lo karena udah boongin kita.”kata Fitri, lalu dia dan Ruri menatap Sheila dengan tatapan menuduh.

“Kenapa lo nggak bilang soal Kevin yang ngajak lo ngedate dan Eric yang ngajak lo makan malem?”tanya Fitri.

“Abis kalo gue bilang ma kalian pasti gue dimarahin.”kata Sheila.”Lagian waktu itu gue pikir Eric selingkuh ama Bu Gita, jadi gue nerima ajakan Kevin buat ngebales dia.”

“Ya ampun, Shel.Bu Gita tuh udah punya pacar.Pacarnya itu guru olahraga di SMA Rajawali.Kalo nggak salah, kita punya fotonya kan, Ri.Tapi dimana ya?”Fitri merogoh tasnya, mencari-cari.

“Kan di Hp lo, Fit.”kata Ruri.

“Oh ya, gue lupa bawa Hp.Besok deh gue liatin.”kata Fitri.

“Nggak diliatin juga nggak pa-pa kok.Yang penting sekarang gue tahu kalo Eric bener-bener nggak selingkuh ama Bu Gita.”kata Sheila.” “Oh ya, ngomong-ngomong soal Kevin, gimana dia sekarang?”

“Kemaren waktu lo nggak masuk, guru-guru ngadain sidang soal Kevin.Hampir semua guru ngusulin Kevin dikeluarin, tapi entah kenapa kepala sekolah mutusin lain.Kevin cuma diskors 3 hari.”kata Fitri geram.

“Gue yakin pasti Bu Gita yang ngebujuk kepala sekolah biar Kevin nggak dikeluarin.Kepala sekolah kan takluk ama Bu Gita.”timpal Ruri yakin.”Apalagi Kevin termasuk di antara anak-anak cowok yang memuja Bu Gita.Lo tahu sendiri kan kalo Bu Gita bakal ngebela orang yang memuja dia.”

Sheila langsung merasa kemarahan menjalari tubuhnya.Dia tidak habis pikir kenapa Bu Gita bisa selicik itu dan kenapa kepala sekolah bisa semudah itu terpikat dengan rayuannya.

“Udahlah, Shel.Yakin aja, pasti orang kayak gitu bakal dapet balasan yang setimpal suatu hari nanti.”kata Fitri.

Sheila mengamini dalam hati, lalu mulai membuka buku kimianya (pelajaran pertama pagi itu kimia).Ketika dia membuka halaman 15, dilihatnya ada sepucuk surat terselip di situ.Sheila membukanya, lalu membacanya.

DEAR SHEILA…..

BESOK SIANG KUTUNGGU DI DEPAN

BIOSKOP DI PLASA TUNJUNGAN

ERIC

“Ciee…diajak ngedate nih.”goda Fitri.

“Tapi dia aneh banget.Kita kan serumah, kenapa nggak berangkat berdua langsung dari rumah aja.”kata Sheila.”Lagian kita kan udah nikah, ngapain pake ngedate segala.”

“Udahlah, jalanin aja.Yang penting kan happy.”kata Ruri.

ííí

Esoknya, Sheila bangun pagi-pagi sekali.Dia langsung ke dapur dan menanak nasi.Setelah itu, dia membuat adonan kue dan memanggangnya di oven.

“Lho, kok non Sheila masak nggak bilang-bilang bibi?”tegur Bi Inah, pembantu Sheila, ketika melihat Sheila di dapur.

“Nggak pa-pa kok, bi.Lagi pingin masak sendiri.”kata Sheila.

“Nanti kalau tangan non Sheila kegores pisau, bi inah yang dimarahi tuan Eric.”kata bi Inah.

“Tenang aja deh, bi.Sebelum nikah saya udah sering masak kok.”kata Sheila.

“Tapi non….”

“Mending sekarang bibi bersihin aja teras depan.Biar saya yang masak.Ini perintah.”kata Sheila tegas.

Bi Inah menghela napas, lalu keluar dari dapur.Sheila melanjutkan acara masak-memasaknya sambil bersiul kecil.

Beberapa menit kemudian, di atas meja makan sudah tertata rapi semangkuk besar sup, sepiring besar ayam pedas bumbu kecap, dan cake keju dengan strawberry di atasnya.

Sheila mengagumi hasil masakannya, lalu memanggil bi Inah, “Bi Inah.”

Bi Inah datang tergopoh-gopoh ke ruang makan dan langsung takjub melihat hasil karya Sheila di atas meja makan.

“Gimana?”tanya Sheila.

“Kelihatannya enak, non.”kata Bi Inah.

“Ya udah, kalo gitu saya mau jogging dulu.Tolong buatin tuan kopi dan taruh di atas meja di sebelah tempat tidurnya. Terus nanti kalo tuan bangun, suruh sarapan duluan aja.Saya makan di rumahnya Fitri “kata Sheila sambil berlalu.

“Baik, non.”kata Bi Inah.

Tidak lama kemudian, Eric terbangun ketika mencium bau kopi di dekatnya.Eric langsung meminumnya dan dirasakannya sisa kantuknya menghilang.Badannya langsung segar.

Eric mencuci mukanya, lalu membuka pintu penghubung untuk melihat Sheila.Eric kaget ketika melihat tempat tidur Sheila sudah rapi dan tidak ada tanda-tanda Sheila ada di kamar.Memang tidak biasanya Sheila bangun pagi.

Eric menutup pintu penghubung dan keluar kamar menuju ruang makan.Dia berpikir Sheila mungkin sudah sarapan duluan.Tapi di ruang makan tidak ada siapa-siapa.Yang ada hanya makanan yang tertata rapi di atas meja makan.

“Bi Inah.”seru Eric memanggil pembantunya.

“Ada apa, tuan?”tanya Bi Inah ketika sudah berada di ruang makan.

“Nona mana?”tanya Eric.

“Oh, nona pergi jogging katanya.Barusan aja pergi.”kata Bi Inah.”Tapi nona sudah nyiapin sarapan buat tuan.Tuh, di meja.”

Eric terperangah ketika melihat masakan yang berjejer rapi di atas meja.Rasanya sulit dipercaya kalau Sheila yang membuat semua ini.

“Nona yang masak, bi?”ulang Eric tidak percaya.

“Iya, tuan.”kata Bi Inah.”Nona juga bilang dia mau sarapan di rumah non Fitri, jadi tuan makan duluan saja.”

Eric merasa agak kecewa karena Sheila tidak mau sarapan dengannya, tapi kebahagiaannya mengalahkan kekecewaannya.Dia merasa Sheila sudah mulai bisa menerimanya di hatinya.

ííí

Siangnya, Sheila pergi naik taksi ke TP.Mobilnya dipakai Eric karena bensin mobil Eric habis.Sheila tidak habis pikir kenapa Eric tidak mau berangkat bersamanya dari rumah, padahal taksi kan mahal, apalagi rumahnya jauh sekali dari TP.

Tiba-tiba Hp Sheila berbunyi.Sheila mengeluarkan Hp-nya dari tasnya dan dilihatnya ada pesan baru.Dia pun membukanya.

KM DIMN?ERIC

Sheila dengan cepat membalasnya.

BNTR LG NYAMPE

Memang benar karena tidak sampai semenit dia membalas SMS Eric, taksi sudah berhenti tepat di depan Sogo TP.Sheila langsung membayar ongkos taksi lalu cepat-cepat keluar dari taksi dan berjalan masuk ke Sogo.

Entah kenapa hatinya terasa berdebar-debar seakan ini adalah first datenya.Tapi tidak mungkin dibilang first date kan kalau sudah menikah.

Setelah menaiki 5 eskalator akhirnya Sheila sampai di depan bioskop.Bioskop sangat ramai karena hari itu hari Minggu.Sheila menoleh ke sana-kemari mencari Eric, tapi Eric tidak ada dimanapun juga.Sheila memutuskan untuk menunggunya di di tempat duduk yang ada di dalam bioskop.Tapi batang hidung Eric tidak juga kelihatan dimanapun.

Sheila mulai merasa kesal dan terpikir olehnya kalau mungkin saja Eric mengerjainya.

Sheila sudah mau menelepon Eric ketika tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya dari belakang.Sheila menoleh dan dilihatnya seorang cowok yang luar biasa tampan tersenyum padanya.Sheila melongo kaget ketika disadarinya kalau itu adalah Eric.Eric tanpa kacamata yang biasa bertengger di hidungnya.Eric tanpa jas rapinya.Eric tanpa sepatu mengkilat yang selalu disemirnya tiap hari di kakinya.

Yang dilihat Sheila sekarang adalah Eric yang memakai jaket putih dan celana jeans warna hitam juga sepatu kets warna hitam putih.Rasanya Sheila tidak bisa mempercayai penglihatannya sekarang.Dengan penampilannya yang seperti itu, Eric lebih mirip anak kuliahan biasa, bukan seorang pengusaha kaya yang parlente.

“Shel, Shel, kamu kenapa?”Eric mengibas-ngibaskan tangannya di depan mata Sheila.Sheila mengerjapkan matanya dan langsung menjadi salah tingkah.

“Kenapa?Aku kelihatan jelek ya?”tanya Eric.

“Nggak kok.Kamu pantes kok pake baju itu.”jawab Sheila sekadarnya.Sebenarnya dia ingin sekali bilang kalau Eric sangat tampan hari itu, tapi dia terlalu gengsi untuk bilang.

“Syukurlah kalo gitu.Oh ya, ini buat kamu.”Sheila mengeluarkan setangkai bunga mawar asli dari balik punggungnya.”Sori, aku udah buat kamu nunggu lama.”

Sheila merasa hatinya luar biasa senang, tapi dia tidak mau menunjukkannya pada Eric.Dia menerima mawar itu dengan ekspresi yang diusahakannya sebiasa mungkin.

“Ayo, filmnya udah mulai.”kata Eric.

Hari itu, benar-benar hari yang membahagiakan bagi Sheila.Mula-mula Eric mengajaknya nonton, setelah itu mereka makan sampai kekenyangan di food court.Lalu mereka jalan-jalan sampai capek.

Sekitar jam 9 malam, mereka baru merasa benar-benar capek dan memutuskan untuk pulang.

“Gila, filmnya romantis banget.Aku kagum banget ama cowoknya.Dia pantang menyerah.”Sheila bercerita dengan heboh soal film yang tadi dia tonton dengan Eric.Eric yang sedang menyetir cuma tertawa kecil mendengar cerita Sheila yang berapi-api.

“Terus waktu cowok itu bilang ‘aku sayang kamu’ dan nyium ceweknya, aku langsung terharu banget.Akhirnya perjuangan cowok itu selama ini nggak sia-sia.Aku……”Sheila menghentikan ceritanya ketika merasa mobil yang ditumpanginya agak oleng.

Eric masih memegang setir, tapi matanya yang tajam menatap Sheila lekat.Sheila setengah takut setengah salah tingkah memandang jalan dari kaca dengan ngeri.

“Ric, liat jalan dong.Nanti kalo nabrak gimana?”kata Sheila takut.

Eric cuma diam seakan tidak mendengar kata-kata Sheila.Dia terus memandang Sheila dan tangannya masih memegang setir dengan mantap.Diam-diam Sheila mengagumi kepiawaian Eric menyetir.Walaupun matanya tidak mengawasi jalan, Eric dapat mengendalikan mobilnya agar tetap di jalurnya walaupun dengan sedikit oleng.Lagipula mereka sudah sampai di komplek perumahan mereka, sehingga jarang ada mobil yang lalu lalang sehingga kemungkinan tabrakan kecil.

Tapi tetap saja Sheila merasa was-was sehingga dia terus mengawasi jalan.Eric masih memandangnya dengan lekat, lalu tiba-tiba saja mukanya mendekat ke muka Sheila.Tatapannya seakan memaku Sheila sehingga Sheila tidak kuasa lagi melihat jalanan.

Semakin lama muka Eric semakin dekat ke mukanya.Sheila menelan ludah dengan gugup.Sekarang muka Eric tinggal 1 cm dari mukanya.Sheila langsung memejamkan matanya.Tapi kemudian………BRAKKKKKKKKKKKKKKKKK.

Eric dan Sheila tersentak ke depan.Mobil mereka menabrak pagar pembatas jalanan komplek.

ííí

Memang tabrakan itu tidak membuat mereka terluka, tapi karena tabrakan itu Sheila mesti merelakan mobilnya diservis 3 minggu di bengkel.Tentu saja ini merepotkan, karena Sheila terpaksa berangkat bersama Eric ke sekolah selama 3 minggu.Ini jelas membahayakan karena bisa-bisa mereka ketahuan sudah menikah, padahal 1 minggu lagi Sheila EBTANAS.

“Kamu sih pake acara sok ahli nyetir segala.Sekarang gini deh jadinya.”Sheila mengomel ketika pagi itu untuk yang ketiga kalinya dia dan Eric berangkat bersama ke sekolah.

“Nggak usah dibahas lagi kenapa sih?”kata Eric sebal.

“Gimana mau nggak dibahas lagi?Kalo sampai ketahuan bisa-bisa aku dikeluarin padahal minggu depan aku udah ujian.”Sheila sewot.”Kamu sih pake jadi guru di sekolahku segala.”

Eric menghentikan mobilnya dengan kasar di tepi jalan, lalu membuka kunci mobil.

“Udah sampai.”katanya dingin.

Sheila keluar dari mobil sambil menggerutu, lalu membanting pintu mobil sampai menutup.Eric langsung melanjutkan perjalanannya ke sekolah tanpa berkata apa-apa lagi pada Sheila.

Sheila memaki-maki Eric dalam hati, lalu setelah puas dia mulai berjalan ke sekolah.Setelah kira-kira 10 menit, dia sampai di sekolah dan langsung bertemu Fitri di gerbang sekolah.

“Lho, Shel.Lo kok jalan sih?”tanya Fitri.

Sheila menceritakan tentang mobilnya yang rusak berat dan juga tentang keterpaksaannya berangkat bersama Eric ke sekolah serta bagaimana dia terpaksa berjalan sendiri sejauh 5 blok dari sekolah karena takut ketahuan.Fitri menepuk-nepuk punggung Sheila penuh simpati.

“Tapi sebenernya lo mesti nyesel karena kehilangan 1 hal.”kata Fitri.

“Apa?”tanya Sheila.

“Ciuman Eric.”kata Fitri dengan nada menggoda.

Muka Sheila langsung merah padam, tapi bukan Sheila namanya kalau tidak bisa mengelak.

“Lho, Fit, lo bukannya maju pertama EBTA praktek Biologi?”kata Sheila cepat.

“Oh iya, gue sampe lupa.Gue ke laboratorium dulu ya.”kata Fitri.

Sementara Fitri berlalu dari hadapannya, Sheila mulai berpikir-pikir tentang kata-kata Fitri tadi.Sebenarnya kata-kata Fitri benar.Dia merasa agak menyesal karena tidak sempat merasakan first kissnya.Padahal itu yang selama ini dia impikan.

Dia juga mulai merasa tidak enak karena setelah insiden kecelakaan itu dia selalu berkata ketus pada Eric, padahal Eric sudah mencoba untuk minta maaf padanya.Sheila menghela napas, lalu dia berjanji dalam hati untuk minta maaf pada Eric nanti.

“Shel, Sheila.”Ruri berseru memanggilnya.Sheila yang sedang termenung di koridor langsung tersentak kaget.

“Kenapa?”tanya Sheila.

“Eric nitip pesen ke gue.Katanya dia nanti ada rapat guru.Lo disuruh nunggu di tempat biasa.”kata Ruri dengan agak terengah-engah.Maksud tempat biasa di sini yaitu di tepi jalan tempat Eric biasanya menurunkan Sheila.

“Thanks udah ngasih tahu.”kata Sheila sambil tersenyum.

“Kalo gitu gue pergi dulu ya.Gue mo belajar di detik-detik terakhir.”kata Ruri.

“Gut luck ya.” Sheila menyemangati.Ruri tersenyum, lalu berlalu dari hadapan Sheila.

Beberapa jam kemudian di ruang guru……………..

“Para guru sekalian, tahun ini panitia EBTANAS memberikan pengamanan ekstra untuk mencegah kegiatan contek-mencontek di kalangan siswa.”kata kepala sekolah mengawali rapat.”Kali ini, panitia EBTANAS menyediakan 1 kelas yang dinamakan kelas khusus yang nantinya akan ditempati oleh anak-anak yang dianggap suka mencontek.Kira-kira dalam 1 kelas ada 25 anak dan dijaga ketat oleh 4 guru yang tidak bisa diajak kompromi.”

“Darimana mereka tahu mana anak yang suka dan yang tidak suka mencontek?”tanya Bu Rani, guru Ekonomi kelas 3-IPS.

“Mereka menyerahkan urusan itu pada kita.”kata kepala sekolah sambil lalu.”Untuk itu, siapa dari Anda yang punya usulan kira-kira siapa yang pantas masuk ke kelas ini?”

Sejenak para guru terdiam.Mereka kebingungan menentukan siapa yang pantas masuk kelas itu karena hampir semua murid-murid mereka suka mencontek.Selain itu mereka juga tidak tega memasukkan murid-murid mereka ke dalam kelas khusus itu.Bagaimana kalau murid-murid mereka tidak lulus?

“Bagaimana kalau Anda saja yang menentukan, pak kepala?”usul Pak Ridwan, guru Bahasa Indonesia.

“Tidak, tidak.Kalianlah yang harus menentukan karena kalian lebih mengenal murid-murid daripada saya.”kata kepala sekolah.

Guru-guru kembali terdiam.Lalu tiba-tiba Bu Gita mengacungkan tangannya.

“Ya, silakan Gita….eh, Bu Gita.”kata kepala sekolah.

“Saya rasa saya punya 1 nama yang mungkin cocok dimasukkan ke kelas itu.”kata Bu Gita sambil tersenyum.

“Siapa?”tanya kepala sekolah.

“Oh…jangan bilang Marsheila Avrianita lagi.”tukas Bu Susi, guru Biologi kelas 3-IPA.

Memang, perseteruan antara Bu Gita dan Sheila sudah menjadi rahasia umum di kalangan guru-guru.Tentu saja semuanya membela Sheila, tapi Bu Gita selalu saja bisa menang.

“Lalu kenapa kalau memang dia, Bu Susi?”tanya Bu Gita manis.

“Marsheila Avrianita?Marsheila yang cantik itu kan?Memangnya kenapa dengan dia?Saya rasa dia anak yang baik.”kata Pak Bowo, guru PPKn.

“Itu kan menurut Anda, Pak Bowo.”kata Bu Gita sambil tersenyum.”Tapi di pelajaran saya dia selalu mencari masalah dan membuat onar.”

“Wah, Bu Gita, apa itu tidak terlalu berlebihan?”tanya Eric.”Mungkin nilainya memang tidak terlalu bagus, tapi saya rasa dia bukan pembuat onar.”

“Yah…memang dia selalu mencari perhatian para guru pria dengan bersikap manis di depan mereka.Saya rasa itulah yang dia lakukan di hadapan Anda.”kata Bu Gita.

“Di dalam pelajaran saya dia juga selalu bersikap baik dan Anda juga tahu kalau saya adalah wanita.”kata Bu Susi.

“Saya tahu.Tapi di pelajaran saya……”

“Sudahlah, Bu Gita.Saya harap dendam masa lalu tidak membuat Anda mempersulit Marsheila.”kata Eric.

“Dendam masa lalu?Apa maksud Anda, Pak Eric?”tanya Bu Gita.

“Tentu saja yang dimaksudkan Pak Eric adalah polling ‘who are the most beautiful, student vs teacher’, Bu Gita.Anda tentu masih ingat kan?”timpal Bu Rani.

Wajah Bu Gita tampak sedikit memerah, lalu dia berkata sambil tetap menyunggingkan senyum,”Jadi maksud kalian saya sengaja mempersulit Marsheila hanya karena polling menggelikan itu?”

“Itulah faktanya, Bu Gita.”kata Eric.

“Maaf, Pak Eric, tapi setahu saya Anda baru pindah ke sekolah ini 1 bulan yang lalu, jadi tentu saja saya lebih mengenal Marsheila daripada Anda.”tukas Bu Gita.

“Dan saya bahkan sudah mengajar Marsheila sejak kelas 1.”kata Bu Susi.”Jadi, tentu saja saya yang lebih mengenal dia.”

Bu Gita tampak marah sekali, tapi dia berusaha untuk tenang,”Tapi di pelajaran saya dia selalu membuat masalah.Dia tidak pernah mengerjakan PR.”

“Saya rasa dengan memfitnah Marsheila itu sudah keterlaluan, Bu Gita.”kata Eric dingin.”Setahu saya, dia malah mengerjakan PR lebih daripada anak yang lain.Belum lagi jika ulangan.Anda selalu memberinya soal banyak yang harus dikerjakan dalam waktu singkat.Benar kan?”

Bu Gita sudah mau membalas ketika kepala sekolah menyela,”Sudahlah, masalah ini tidak perlu diperpanjang lagi.Kalau Bu Gita bilang Marsheila pantas dimasukkan ke kelas khusus, kenapa tidak?Apalagi Matematika adalah salah satu bidang yang diujikan.Biar saja si Marsheila itu masuk ke ruang khusus.”

“Tapi pak……….”

“Cukup.Silakan bicara kalau Anda punya usulan lain.”kata kepala sekolah tegas.

Para guru memandang Bu Gita dengan geram.Bu Gita tersenyum penuh kemenangan yang disunggingkannya dengan samar kepada para guru.Ketika dia tersenyum kepada Eric, Eric cuma menanggapinya dengan dingin.

Setelah selesai rapat, Eric cepat-cepat menuju parkiran mobil.Dia takut Sheila menunggunya terlalu lama.Tanpa memperhatikan kanan kirinya lagi, Eric mengeluarkan mobilnya dari parkiran dan melaju di jalan dengan kecepatan tinggi sehingga dia tidak mengetahui kalau sebuah mobil sedan berwarna merah mengikutinya.

Tidak lama kemudian, Eric sampai di tempat dia tadi pagi menurunkan Sheila dan dia merasa lega karena Sheila masih menunggunya.

“Nunggu lama ya?”tanya Eric pada Sheila yang sedang duduk di trotoar jalan sambil menopang dagunya.

“Yah, lumayan.”Sheila berdiri, lalu masuk ke dalam mobil.

“Gimana tadi rapatnya?”tanya Sheila ketika dia dan Eric sudah berada di dalam mobil.

Eric tampak kikuk ketika mendengar pertanyaan Sheila.Sheila jadi curiga kalau hasil rapat itu pasti ada kaitannya dengannya.

“Kenapa?Apa kamu menyembunyikan sesuatu?”tanya Sheila.

“Umm…yah…mungkin ini bukan kabar baik, tapi aku ingin kamu tahu kalau aku sudah berusaha sekuat tenaga untuk mencegahnya.”kata Eric gugup.

Mendengar kata-kata Eric, Sheila langsung ketakutan.

“A..apa kita ke..ketahuan?”tanya Sheila panik.”A..apa aku di..dikeluarkan?”

“Tenang, tenang, bukan begitu.Kamu sama sekali tidak dikeluarkan dan kita juga tidak ketahuan.”kata Eric menenangkan.

“Kalau begitu kenapa dong?”tanya Sheila penasaran.

“Ebtanas nanti, kamu akan ditaruh di kelas khusus.”kata Eric hati-hati.

Eric jelas mengira, Sheila akan panik lagi, tapi Sheila justru terlihat senang.

“Kenapa malah senang?”tanya Eric heran.

“Siapa sih yang nggak seneng masuk kelas khusus.Kelas itu untuk orang-orang pintar kan?Berarti selama ini aku dianggep pintar dong.”kata Sheila.

“Eh..begini..kelihatannya kamu salah paham deh.Kelas khusus di sini bukan kelas khusus orang-orang pintar, tapi kelas khusus untuk orang-orang yang suka mencontek.Dan kelas itu dijaga oleh 4 orang guru yang paling galak.”Eric menjelaskan.

Benar saja, Sheila langsung panik ketika mengetahui fakta yang sebenarnya.

“Kok bisa sih?Aku kan jarang banget nyontek.Malah parahan Ruri daripada aku.Apa dia juga masuk kelas khusus?”tanya Sheila yang langsung dijawab gelengan pelan oleh Eric.

“Ini nggak adil.Kok tega-teganya sih guru-guru masukin aku ke kelas khusus?”kata Sheila tidak habis pikir.

“Sebenarnya guru-guru tidak setuju kamu masuk kelas khusus, tapi Gita….”

“Oooo…jadi Bu Gita yang masukin aku?Hhh..seharusnya aku sudah menduga dari awal.Kenapa sih dia benci banget ama aku cuma karena masalah sepele?Ini bener-bener nggak adil.”kata Sheila marah.

“Tenang, Shel, ini bukan keputusan final.Masih ada kesempatan untuk mengubahnya.”kata Eric.

Itu jelas harapan semu bagi Sheila karena kepala sekolah jelas akan mendukung Bu Gita.Sudah pasti dia akan masuk ke kelas khusus.Pembelaan guru-guru saja tidak mempan, apalagi pembelaan Eric seorang.Tapi Sheila tidak mengatakan semua itu pada Eric.Dia cuma diam saja.

“Um…Ric, aku minta maaf ya karena sejak mobilku rusak aku selalu berkata kasar padamu.”kata Sheila setelah beberapa saat.Eric tersenyum mendengarnya.

“Aku juga minta maaf karena merusak mobilmu.”kata Eric.Sheila mengangguk dan juga tersenyum pada Eric.

Beberapa menit kemudian, mereka sampai di rumah mereka.Eric menghentikan mobilnya di depan rumah, lalu keluar dari mobil.

“Lho, kenapa nggak dimasukin?”tanya Sheila sambil ikut keluar dari mobil.

“Aku mau pergi lagi nanti, jadi mendingan nggak kumasukin.”kata Eric.

“Ke hotel lagi?Apa kamu nggak capek?”tanya Sheila.

“Kenapa?Kamu kangen ya kalau aku pulang malem?”goda Eric.

“Idih, ge er amat sih?Ya udah sono pergi yang jauh.”kata Sheila.

Mereka masuk ke dalam rumah sambil tertawa-tawa tanpa mengetahui bahwa seseorang sedang memperhatikan mereka dari dalam mobil sedan merah yang diparkir tidak jauh dari rumah mereka.Orang itu adalah Bu Gita yang kini sedang menyunggingkan senyumnya yang licik.

ííí

Beberapa hari ini Sheila super sibuk menghadapi ujian sekolah.Dia selalu berangkat ke sekolah pagi sekali dan pulang malam karena ikut berbagai les tambahan yang diadakan sekolah.Sesampai di rumah, dia langsung terlelap di tempat tidur saking capeknya sehingga dia nyaris tidak pernah bertemu Eric yang juga sibuk mengurusi hotelnya.

Kadang Sheila ingin sekali mengobrol dengan Eric, tapi dia mengerti kalau Eric pasti juga capek dengan segala kesibukannya.Dia tidak ingin menganggunya.Padahal andai Sheila tahu, Eric juga berpikir sama dengannya.

Suatu hari, Eric pulang lebih awal dari sekolah.Dia ingin cepat-cepat menyelesaikan pekerjaannya di hotel sehingga bisa pulang ke rumah lebih cepat dan punya cukup waktu untuk mengobrol dengan Sheila sebelum dia tertidur.Tapi belum 500 m dari gerbang sekolah, seorang wanita lewat dengan tiba-tiba di depan mobilnya (sehingga dia nyaris menabraknya) dan pingsan 5 cm di depan ban depan mobilnya.

Eric langsung panik dan ketakutan.Dia mengira kalau wanita itu tadi ditabraknya karena lewatnya wanita itu di depan mobilnya begitu tiba-tiba dan Eric nyaris tidak melihatnya.

Eric langsung keluar dari mobilnya dan menghampiri wanita itu.Wajah wanita itu tampak pucat.Eric memeriksa urat nadi wanita itu dan langsung bernapas lega begitu merasakan kalau nadi wanita itu masih berdenyut.Dia lebih lega lagi begitu wanita itu perlahan membuka matanya.

“Anda tidak apa-apa?”tanya Eric.

Wanita itu tampak kebingungan.Dia memandang Eric dengan heran.

“Saya dimana?Kamu siapa?”tanya wanita itu.

“Tadi Anda pingsan tiba-tiba di depan mobil saya.Saya kira Anda tertabrak.”kata Eric menjelaskan.

Wanita itu masih tampak kebingungan.Sejenak matanya mengerling ke arah mobil Eric, lalu wajahnya langsung berubah cerah.

“Maaf, membuat Anda bingung.Saya memang agak tidak enak badan.Seharusnya saya tidak nekat berjalan-jalan.”kata wanita itu.

“Tidak apa-apa.Lebih baik Anda saya antar pulang saja.”kata Eric.

“Ah, tidak usah repot-repot.Saya tidak biasa merepotkan orang.Lagipula rumah saya dekat dari sini.Tidak usah khawatir.”kata wanita itu buru-buru.

“Tapi….”

“Sudahlah, tidak apa-apa.Maaf, saya pergi dulu.Terima kasih.”kata wanita itu sambil berlalu.

Eric memandang wanita itu dengan curiga lalu cepat-cepat kembali ke mobilnya, takut ada barangnya yang hilang sementara dia melihat keadaan wanita itu.Eric membuka-buka dompetnya dan langsung lega begitu melihat uangnya masih utuh.Laptopnya juga masih ada.Semua barangnya masih ada di tempatnya semula.Kecuali satu dan Eric baru menyadarinya.Foto pernikahannya dengan Sheila tidak ada di tempatnya.

ííí

3 hari kemudian, Sheila datang ke sekolah dengan hati yang berdebar-debar.Hari ini dia akan menghadapi EBTANAS.Setelah ini dia akan bebas dan bisa menikmati kebersamaannya dengan Eric tanpa harus menutup-nutupinya lagi.Sheila merasa lebih bersemangat jika membayangkannya.

Tapi entah kenapa perasaannya hari ini tidak enak.Dia merasa seperti akan terjadi sesuatu yang buruk.

“Shel, Sheila.”Fitri dan Ruri serempak memanggil Sheila begitu melihatnya.Sheila tersenyum pada kedua sahabatnya itu, tapi senyumnya dibalas dengan kepanikan oleh kedua sahabatnya.

“Ada apa sih?”tanya Sheila heran.

“Shel, lo dipanggil ama kepala sekolah.”kata Ruri.

“Lho, ujiannya kan 10 menit lagi.”kata Sheila.

“Iya, gue juga udah bilang kayak gitu, tapi…..udah deh mendingan lo ke sana aja sendiri.Abis kayaknya suasananya nggak enak, dan guru-guru pada ngumpul di sana semua.”kata Fitri.

Sheila jelas merasa ini bukanlah hal yang baik, tapi dia berusaha positive thinking.Mungkin saja ini masalah kelas khususnya.Tapi masa’ membahas kelas khusus harus dengan semua guru?

“Permisi, pak.”Sheila masuk ke ruang kepala sekolah dengan kikuk.

Dalam sekejap dia langsung merasa seperti terpidana yang akan disidang dengan begitu banyak guru di situ yang memandangnya dengan tajam.Sheila menelan ludah.Dia tidak bisa menebak apa kesalahannya.

Sayup-sayup terdengar bunyi bel masuk.Sheila dengan agak salah tingkah berkata, “Maaf, pak.Saya harus ikut ujian.”

Kepala sekolah beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Sheila, lalu berkata, “Maaf, nak, tapi kamu tidak bisa mengikuti ujian.Namamu sudah kami coret dari daftar peserta dan kami terpaksa mengeluarkanmu sekarang juga.”

Sheila langsung melongo mendengar kata-kata kepala sekolah saking terkejutnya.Baru 2 menit kemudian dia bisa mencerna keseluruhan kata-kata kepala sekolah.Rasanya kepalanya berkunang-kunang karena kata-kata seperti dikeluarkan, tidak boleh mengikuti ujian, dan dicoret dalam daftar terus terulang di dalam benaknya seperti gema yang tak kunjung berhenti.

“Maaf, tapi salah saya apa, pak?”tanya Sheila setelah berhasil menguasai diri.

“Kamu kenal foto ini?”Kepala sekolah menyodorkan selembar foto dari sakunya dan memperlihatkannya tepat di bawah hidung Sheila.Foto pernikahannya.Tapi yang di sampingnya sama sekali bukan Eric.Ada yang telah menggantinya.

Sheila tidak bisa berkata apa-apa saking syoknya sementara kepala sekolah memasukkan kembali foto itu ke dalam sakunya.

“Nah, sekarang sudah jelas kan?Kamu sendiri tahu aturannya seperti apa.Kalau ketahuan sudah menikah, hukumannya dikeluarkan.”kata kepala sekolah.

“Tapi, pak, saya harus ikut ujian.S..saya tidak boleh melewatkan ini.”kata Sheila sambil menahan tangis.

“Aturan tetap aturan.Maaf, nak Sheila.Jadi sebaiknya Anda tidak membuang-buang waktu di sini dan pulang saja ke rumah.”kata kepala sekolah berat.

Sheila yang biasanya selalu bisa membela diri sekarang cuma bisa diam tanpa kata.Tidak ada yang bisa dilakukannya.Padahal dia sudah lama menantikan hari ini.Dia sudah belajar cukup keras untuk menghadapi hari ini.Tapi Sheila tidak berusaha mengelak atau memohon.Dia cuma berkata, “Maaf, pak, kalau saya sering merepotkan bapak.Saya pergi dulu.”

Sheila membalikkan badannya tanpa meneteskan air mata sedikitpun.Kesedihannya jauh melampaui seluruh persediaan air matanya sehingga dia tidak bisa menangis kalaupun ingin.Baru ketika dia sudah di parkiran, air matanya menetes sedikit demi sedikit.

Dia tidak habis pikir kenapa Eric tega melakukan semua ini padanya. Ya, siapa lagi kalau bukan dia?Cuma dia yang punya foto itu.

“Shel.”Eric memanggilnya pelan.Sheila tidak menoleh ataupun membalas.Dia cuma terpaku di tempatnya.

“Shel.”panggil Eric lagi.

Rasanya Sheila ingin berteriak keras agar Eric tidak memanggil namanya lagi.Dia ingin Eric pergi jauh dari hadapannya.Dia tidak ingin bertemu Eric lagi.

“Kita bercerai saja.”kata Sheila tanpa membalikkan badan.

“Ta..tapi, dengar dulu penjelasanku….”

“Apa lagi yang perlu dijelaskan?Semua sudah jelas.Tapi aku tidak habis pikir kenapa kamu tega sekali mengganti fotomu dengan orang lain.Kenapa kamu lakukan itu?”Sheila berteriak tak terkendali.Eric memilih untuk tidak membalas dengan berteriak juga dan berbicara dengan nada selembut mungkin.

“Shel, bukan aku yang melakukannya.”kata Eric.

“Lalu siapa?Kamu sendiri yang bilang kalau cuma kamu yang punya foto itu dan foto itu tidak ada klisenya.Dan kamu masih bisa bilang bukan kamu yang melakukannya?”Sheila berteriak lagi.

“Aku benar-benar tidak melakukannya.Foto itu hilang 3 hari yang lalu.Aku tidak tahu kalau jadinya seperti ini.”kata Eric.

“Sudahlah, jangan bicara lagi.Aku tidak mau dengar apa-apa lagi.”Sheila menutup telinganya rapat-rapat.

“Shel…”

“Aku tetap akan bercerai terserah kamu mau bilang apa.”teriak Sheila sebelum pergi meninggalkan Eric yang cuma bisa termangu.

ííí

Berita tentang dikeluarkannya Sheila tidak menyebar di kalangan murid-murid karena guru-guru menutup rapat berita ini, terkecuali Bu Gita tentu saja.Bu Gita terlalu senang dengan dikeluarkannya Sheila sehingga entah sadar atau tidak sadar (sepertinya sih sadar), dia memberitahu semua anak yang ditemuinya tentang dikeluarkannya Sheila dan apa sebabnya.Sampai akhirnya tersebarlah berita ini (walaupun secara diam-diam) hingga terdengar di telinga Fitri dan Ruri.

“Nggak mungkin.Ini semua nggak mungkin.”kata Fitri tidak percaya.

“Terserah lo mau percaya apa enggak.Yang pasti, Bu Gita sendiri yang bilang ke gue.”kata Resi, sang narasumber.”Lagian gue ujian di ruang khusus dan dia sama sekali nggak dateng.Bahkan namanya juga nggak ada di daftar absen”

Ruri dan Fitri sangat syok mendengarnya.Mereka sampai lupa kalau hari ini mereka masih ujian.

“Kasian banget ya Sheila.Pas mau ujian malah ketahuan.”kata Ruri sedih.

“Tapi ada yang aneh.”kata Fitri.

“Apa?”tanya Ruri.

“Kenapa Eric nggak dipecat?”kata Fitri.”Tadi gue ketemu dia di ruang guru.”

“Mungkin cuma main doang padahal sebenarnya dia udah dipecat.”kata Ruri.

“Tapi kalo gitu beritanya juga pasti nyebar dong.Tapi Resi pun nggak tahu sebenernya Sheila nikah ama siapa.”kata Fitri.

“Jangan-jangan….”

“Ya, pasti ada yang nggak beres dan aku yakin ini ada kaitannya dengan Bu Gita.”kata Fitri.Ruri mengangguk-angguk setuju.

Beberapa menit kemudian, bel masuk berbunyi.Fitri dan Ruri memutuskan untuk melupakan masalah Sheila sejenak dan mencari informasi sehabis ujian nanti.

Fitri dan Ruri begitu bel keluar berbunyi beberapa lama kemudian.Mereka sudah ingin sekali mencari informasi soal Sheila.Dan yang pertama harus dimintai informasi tentu saja adalah Eric.

“Eric.”panggil Fitri dan Ruri berbarengan.Waktu itu Eric sedang membuka pintu mobilnya dan langsung menutupnya lagi begitu melihat Fitri dan Ruri.

“Hai, ada apa?”tanya Eric sambil tersenyum.

“Bagaimana keadaan Sheila?”tanya Ruri to the point.

Tiba-tiba wajah Eric langsung murung.Dia langsung berpaling ke mobilnya lagi dan menghela napas panjang.

“Siang ini, kami akan bercerai di pengadilan.”kata Eric.

“Kenapa?”tanya Fitri.

“Tentu saja karena masalah ini.”kata Eric.

“Tapi bukan kamu kan yang menyebabkan Sheila dikeluarkan.”kata Ruri.

“Memang, tapi dia tidak mau dengar.Dia tetap ingin bercerai.Lalu aku mulai berpikir mungkin inilah yang diinginkannya selama ini.Harusnya sudah dari dulu aku membebaskannya.”kata Eric sambil menerawang.

“Tidak.Sheila sudah mulai menyukaimu kok.”kata Fitri.

“Tapi semua sudah terlanjur.Semua sudah tidak bisa diperbaiki lagi.”kata Eric pelan.”Cuma ini yang bisa kulakukan sekarang.”

Fitri dan Ruri saling berpandangan dan menunduk.Eric tersenyum pada mereka dan berkata, “Sudah ya.Nanti aku telat ke persidangan.”

Eric membuka pintu mobilnya dan melaju meninggalkan parkiran.Fitri dan Ruri termangu cukup lama di tempat parkir sampai Fitri menyadari tujuan awal mereka.

“Hei, kita tidak boleh menyerah sekarang.Masih ada kesempatan untuk mencegah perceraian mereka.”kata Fitri.

“Tapi, apa yang bisa kita lakukan?”tanya Ruri.

“Kita harus menemui kepala sekolah.”kata Fitri.

Bisa dibilang ini nekat, tapi demi sahabat mereka yang tercinta, mereka rela didamprat.

“Darimana kalian tahu soal Marsheila Avrianita yang dikeluarkan?”tanya kepala sekolah heran ketika Fitri dan Ruri menyatakan maksudnya.

“Dari Bu Gita.”kata Fitri tanpa berusaha menutup-nutupinya.

“Tidak mungkin Bu Gita menyebarkan masalah murid seperti itu.Kalian jangan menjelek-jelekkan guru kalian seperti itu.”kata kepala sekolah dengan nada tinggi.

“Terserah kalau Anda tidak percaya, tapi kami bisa mengumpulkan semua anak yang diberitahu Bu Gita jika Anda mau.”kata Fitri tenang.

“T..tapi, tidak mungkin Gita.Maaf, tapi saya tidak bisa mempercayai kalian, anak-anak.”kata kepala sekolah keras kepala.”Sekarang lebih baik kalian keluar.”

“Wah, wah, Anda tidak boleh mengusir kami begitu saja, pak.Paman saya adalah Joko Atmojoyokusumonegorosusanto, kepala yayasan sekolah ini.Jadi kalau Anda berbuat tidak adil pada kami, saya tidak segan-segan melaporkan bapak pada paman saya.”kata Ruri berani.

Kepala sekolah menelan ludah.

“B..baik.Apa mau kalian?”tanya kepala sekolah.

“Kami ingin peninjauan kembali tentang pengeluaran Marsheila Avrianita.”kata Fitri.

“Apa?Oh, maaf, nak, tapi pengeluaran Marsheila sudah tidak bisa diganggu gugat lagi karena bukti yang ada sudah sangat kuat.”kata kepala sekolah.

“Bukti apa?”tanya Ruri.

“Foto ini.”kepala sekolah menunjukkan foto pernikahan Eric dan Sheila dan seperti juga Sheila ketika pertama kali melihatnya, Fitri dan Ruri juga luar biasa kaget.Terlebih karena pengantin prianya bukan lagi Eric, melainkan cowok lain.

“T..tapi, ini tidak mungkin.Seharusnya Er….”Fitri menyodok Ruri sebelum dia sempat menyelesaikan kata-katanya.Ruri langsung diam.

“Baiklah, kalau bapak tidak mau menyelidikinya lagi, kami yang akan menyelidikinya.”kata Fitri.

“Kalian?Apa yang bisa kalian lakukan?Foto ini sudah menjelaskan segalanya.Kalian tidak bisa apa-apa lagi.”kata kepala sekolah.

“Tentu saja bisa.”kata Fitri sambil tersenyum penuh arti.”Beri kami waktu 5 jam dari sekarang.Kami akan kembali dengan membawa bukti kalau Sheila tidak bersalah.”

Ketika mereka sudah meninggalkan kantor kepala sekolah, Fitri langsung cepat-cepat menarik Ruri ke tempat yang sepi dan berkata, “Gue udah tahu siapa yang ada di balik semua ini.”

“Iya gue tahu.Bu Gita kan?”kata Ruri.

“Memang dia.Tapi gue punya bukti kuat kalau dia yang ada di belakang semua ini.”kata Fitri.

“Apa?”tanya Ruri.

“Cowok yang ada di foto itu.”kata Fitri.

“Ooo..cowok itu ya.Kayaknya gue pernah liat deh, tapi dimana ya.”Ruri berusaha mengingat-ingat.Fitri berdecak tidak sabar dan langsung mengeluarkan Hp-nya.

“Nyadar dong, Ri.Dia itu cowok yang kita liat di cafe ama Bu Gita.”Fitri menyodorkan Hp-nya agar Ruri bisa melihat foto Bu Gita yang sedang berpegangan tangan dengan seorang cowok yang tak lain dan tak bukan adalah cowok yang ada di foto pernikahan Sheila tadi.Ruri langsung menepuk dahinya.

“Aduh, kok gue bisa ampe lupa sih.”kata Ruri.

“Ya udah kalo gitu kita nggak boleh buang-buang waktu.Kita harus pergi.”kata Fitri.

“Kemana?”tanya Ruri.

“Ya kemana lagi.Ke rumah Bu Gita dong.”kata Fitri.

Ruri jelas merasa ini ide yang sangat buruk.Ini seperti masuk ke sarang harimau.Bisa-bisa kalau ketahuan, dia dan Fitri bisa dikeluarkan.

“Tenang aja, Ri, hari ini guru-guru kan rapat dan biasanya rapat mereka lama sekali.”kata Fitri menenangkan.

“Tapi tetep aja gue takut.”kata Ruri.

“Udahlah, Ri.Nyantai aja ngapa sih?Gue jamin 100 % aman.”kata Fitri.”Oh ya, gue dari tadi tuh mo nanya sesuatu ke lo tapi gue lupa terus.”

“Apaan?”tanya Ruri.

“Itu lho, Pak Joko.Kok gue baru tahu kalo dia itu paman lo?”kata Fitri.

Ruri langsung tertawa terbahak-bahak dan berkata, “Yah, dibilang paman juga sebenernya bukan sih.”

“Jadi, tadi lo boong?Aduh, Ri, kalo lo ketahuan boong gimana?”kata Fitri cemas.

“Tapi dia beneran keluarga gue kok.Dia itu saudara jauhnya ayah gue.Itu bisa dibilang paman kan?”kata Ruri.

“Dasar, kenapa nggak bilang saudara jauh aja sekalian tadi.”kata Fitri.

“Yah…biar kesannya meyakinkan aja.”kata Ruri sambil nyengir.Fitri mendengus.

Tidak lama kemudian, mereka sampai di depan sebuah rumah mungil bercat biru yang asri.Rumah Bu Gita.Fitri dan Ruri sama-sama menelan ludah, lalu keluar dari mobil.

“Berdoalah semoga tidak terjadi apa-apa.”kata Fitri.Tanpa diberitahu juga sebenarnya Ruri sudah berdoa dari tadi sampai bibirnya komat-kamit.

Setelah berdoa, Fitri memencet bel.Tidak ada yang keluar dari rumah.Pencetan kedua juga sama.Baru pada pencetan ketiga, Fitri melihat pintu depan dibuka dan seorang cowok keluar dari rumah.Cowok itu.

“Cari siapa ya?”tanya cowok itu dari balik pagar.

“Maaf, kami murid Bu Gita.Apa Bu Gita ada?”tanya Fitri sopan.

“Wah, Gita-nya belum pulang tuh.Sepertinya masih ada rapat.Masa’ kalian tidak tahu?”tanya cowok itu curiga.

“Kami tidak tahu, soalnya kami sudah pulang duluan tadi.Kami murid kelas 3 dan baru selesai ujian.”kata Fitri tenang.

“Oh, begitu.Jadi untuk apa kalian menemui Gita?Apa ada yang bisa kubantu?”tanya cowok itu.

“Kami ingin membuat buku kenangan dan kami ingin memuat biodata Bu Gita sebagai guru favorit kami semua di dalamnya.Jadi, kami ingin mewawancarainya.”kata Fitri.

“Wah, jadi Gita itu guru favorit kalian ya?Sudah kuduga.Dia memang baik dan lembut.”kata cowok itu.

Tentu saja Fitri dan Ruri tidak setuju dengan pendapat ini, tapi mereka berusaha tidak menunjukkannya.

“Tapi sayang sekali Gita belum pulang.Bagaimana kalau nanti malam saja kalian ke sini?”cowok itu menawarkan.

“Aduh, nanti malam kami harus belajar.Kami masih ada ujian.”kata Fitri.

“Atau besok saja kalian ke sini lagi setelah ujian.”kata cowok itu lagi.

“Atau bagaimana kalau Anda saja yang kami wawancara?”kata Fitri sambil tersenyum.”Kelihatannya Anda mengenal Bu Gita dengan baik.”

“Eh, sebenarnya aku…Ah, baiklah.Lagipula aku sedang tidak ada kerjaan.Masuklah.”cowok itu membukakan pagar.Fitri dan Ruri diam-diam saling pandang dan tersenyum.

“Kenalkan, namaku Fendi.Aku guru olahraga di SMA Rajawali.”cowok itu memperkenalkan diri.”Nah, sekarang, apa yang perlu kujawab?”

“Baiklah, sebelumnya apa Anda tidak keberatan jika kami mengabadikan Anda dalam Hp kami?”kata Fitri.

“Ya, silakan saja.”kata Fendi.

“Terima kasih.”Fitri mengeluarkan Hp-nya dan menyerahkannya pada Ruri, lalu mulai bertanya,”Apa hubungan Anda dengan Bu Gita?”

“Yah, sebenarnya kami hampir bertunangan.Mungkin sebentar lagi.Aku belum melamarnya.”kata Fendi.

“Wah, pasti Bu Gita akan senang sekali kalau Anda melamarnya.”kata Fitri.”Lalu, bagaimana keseharian Bu Gita di rumah?”

Fendi dengan asyik bercerita panjang lebar tentang keseharian Bu Gita.Walaupun enggan mendengarkan (karena kebanyakan ceritanya di luar fakta), Fitri dan Ruri mendengarkan dengan serius agar Fendi tidak curiga.Baru ketika 3 jam sudah berlalu, Fitri menutup wawancara.

“Maaf kami memotong, tapi kami buru-buru dan saya rasa wawancara ini sudah cukup untuk 2 halaman buku.”kata Fitri sopan.

“Oh, maaf.Aku memang tidak bisa berhenti kalau sudah asyik bercerita.”kata Fendi.

“Baiklah, kami permisi dulu.”kata Fitri.”Oh ya, sebelum itu, apa Anda punya foto yang lain?Mungkin bisa dimuat di buku kenangan kami.”

“Punya sih.Sebentar ya, kuambilkan dulu.”kata Fendi sambil berlalu.Beberapa menit kemudian, dia kembali dengan membawa banyak album.

“Silakan pilih sendiri.”kata Fendi sambil meletakkan album-album itu di atas meja.

“Eh, bagaimana kalau yang pakai jas saja?”kata Fitri.

“Yang pakai jas?Wah, maaf.Foto itu sudah diminta Gita 4 hari yang lalu.”kata Fendi.

“Masa’ tidak ada yang lain?”kata Fitri setengah cemas.

“Sepertinya sih ada.Coba kucari dulu.”kata Fendi sambil membuka-buka albumnya yang segunung.

Perlu waktu hampir setengah jam sampai akhirnya Fendi menemukan foto yang dicarinya.Fitri dan Ruri sampai takut Bu Gita tiba-tiba pulang.

“Ini dia.Persis seperti yang kuberikan ke Gita.”kata Fendi sambil menarik keluar selembar foto dan menyodorkannya pada Fitri.Fitri luar biasa senang melihatnya.

“Terima kasih untuk wawancaranya.Sampai ketemu lagi.”Fitri dan Ruri berpamitan pada Fendi dan cepat-cepat keluar dari rumah.Tapi di pagar mereka bertemu orang yang mereka takuti akan datang tadi.Bu Gita.

“Mau apa kalian kemari?”tanya Bu Gita setengah kaget setengah marah.

“Tidak apa-apa, bu.Kami cuma….LARIIII.”Fitri langsung lari dengan sekuat tenaga, begitu juga Ruri.Bu Gita mengejar mereka, tapi mereka lebih cepat.Segera saja Fitri dan Ruri masuk ke mobil Fitri dan melaju kencang meninggalkan rumah Bu Gita.

“Aduh, hampir aja.”kata Ruri sambil ngos-ngosan.”Sebenernya apa sih rencana lo?”

“Udah, tenang aja.Sekarang mendingan lo telepon abang lo, Ferry.Suruh dia ke sekolah kita sekarang juga.”kata Fitri.

“Tapi…”

“Udah deh, lakuin aja.Ntar gue jelasin.”kata Fitri.

Sesuai janji mereka, mereka kembali ke sekolah tepat 5 jam setelah mereka pergi tadi.Kepala sekolah masih menunggu mereka.

“Bagaimana?Kalian dapat bukti?”tanya kepala sekolah.

“Tentu saja kami dapat.Dan bukti itu mengatakan bahwa Sheila sama sekali tidak bersalah dan Bu Gita-lah dalang semua ini.”kata Fitri.

“Apa buktinya?”tanya sebuah suara yang sangat sinis.Bu Gita sudah berdiri di belakang mereka.

“Wah, Bu Gita, bukankah tadi Anda sudah pulang?”kata kepala sekolah.

“Ya, saya memang sudah pulang dan di sana saya melihat anak-anak nakal ini mengacak-acak rumah saya.Tapi mereka kabur sebelum sempat saya tangkap dan saya duga pastilah mereka kemari untuk memfitnah saya.Ternyata memang benar.”kata Bu Gita.

“Oh, jadi kalian sudah berani masuk ke rumah orang tanpa ijin ya?Kalian benar-benar keterlaluan.”kata kepala sekolah marah.

“Tentu saja itu bohong, pak kepala sekolah.Kami punya bukti bahwa kami masuk ke rumah Bu Gita dengan baik-baik.”kata Fitri tenang.”Ri, suruh abangmu masuk.”

Ruri membuka pintu ruang kepala sekolah dan membawa masuk abangnya, Ferry.Ferry yang seorang tukang foto tampak sedang mengalungi sebuah kamera dan di tangannya tergenggam beberapa lembar foto.

“Bang, berikan foto-foto itu pada Fitri.”kata Ruri.

Ferry menyerahkan foto-foto itu pada Fitri dan Fitri langsung menyerahkannya lagi pada kepala sekolah.Foto-foto itu memuat dari saat mereka memencet bel sampai Fendi mempersilakan mereka masuk.

“I..ini kan pria yang di foto itu.”kata kepala sekolah.

“Benar sekali, pak kepala sekolah.Pria itu sebenarnya adalah pacar Bu Gita.”kata Fitri.

“Itu tidak benar, pak.”sanggah Bu Gita.”Saya tidak tahu siapa pria itu.Mungkin saja mereka sudah bekerjasama untuk menjebak saya.”kata Bu Gita dengan nada sedikit panik.

“Tapi, jelas-jelas pria ini keluar dari rumah Anda, Bu Gita.”kata kepala sekolah sambil meneliti foto-foto itu.

“Dan kami sempat mengadakan wawancara eksklusif dengan pria itu.”Fitri mengeluarkan Hp-nya dan membuka videonya.Di situ terlihat jelas Fendi dan Fitri yang sedang duduk di ruang tamu Bu Gita dan Fendi yang berkata bahwa dia dan Bu Gita hampir bertunangan.

“Bu Gita, bagaimana Anda menjelaskan semua ini?”tanya kepala sekolah pada Bu Gita.

Bu Gita tidak bisa berkata apa-apa.Wajahnya merah padam karena marah.

“Tapi bagaimana bisa pria itu bisa bersama Sheila di foto?”tanya kepala sekolah pada Fitri.

“Aduh, Anda sebagai kepala sekolah kok gaptek sekali sih?”kata Ferry blak-blakan.”Tentu saja itu bisa dilakukan dengan menggunakan Adobe Photoshop.Caranya…bla..bla..bla…”

Ferry menjelaskan panjang lebar tentang bagaimana penggunaan Adobe Photoshop.Kepala sekolah yang emang gaptek cuma manggut-manggut (padahal tidak mengerti sama sekali).Intinya dengan Adobe Photoshop, kita bisa menggabungkan 2 foto menjadi satu sehingga tampak seperti 1 foto.

“Dan kami punya salah satu foto itu.Ini.”Fitri menyodorkan foto Fendi yang sedang menggunakan jas.

“Wah, memang persis dengan yang di foto ini (foto pernikahan Eric dan Sheila).”kata kepala sekolah.

“Jadi bagaimana?Sheila tidak jadi dikeluarkan kan?”tanya Fitri penuh harap.

“Tidak bisa.Dia tetap dikeluarkan karena kalian tidak bisa menjelaskan tentang foto yang satunya.”kata kepala sekolah.

“Foto yang mana, pak?”tanya Ruri.

“Foto Sheila yang memakai baju pengantin.”

“Oh, itu sih kerjaan saya, pak.”kata Ferry.”Foto itu saya buat untuk lucu-lucuan.Kali aja menang di Festival Foto Terlucu.”

“Oh, begitu.Ada-ada saja.”kepala sekolah geleng-geleng kepala.”Baiklah, suruh Sheila menghadap bapak setelah ini.Bapak akan atur jadwal ujian susulannya.”

Fitri dan Ruri hampir melonjak gembira mendengarnya, tapi mereka menahannya agar kepala sekolah tidak curiga.

“Tapi, pak, Sheila memang sudah menikah.”kata Bu Gita.”Tadinya saya tidak mau mengatakannya, tapi karena saya disudutkan, saya terpaksa mengatakannya.”

“Bu Gita, anda sudah terbukti memanipulasi foto itu.Kenapa anda masih mengelak?”sergah kepala sekolah tidak sabar.

“Saya memanipulasi foto itu untuk melindungi salah satu rekan saya di sekolah ini, yaitu Pak Eric.”kata Bu Gita.

“Apa maksud anda, Bu Gita?”tanya kepala sekolah.

“Sheila memang sudah menikah dan suaminya adalah Pak Eric.Saya masih menyimpan foto asli mereka dan saya juga tahu dimana mereka tinggal.”kata Bu Gita.

“Benarkah?”tanya kepala sekolah ragu.

“Itu memang benar, pak.”kata Ferry.

Fitri dan Ruri menatap Ferry ngeri.Kepala sekolah melongo dan Bu Gita tersenyum penuh kemenangan.

“Jadi, memang benar Sheila sudah menikah dengan Pak Eric?”tanya kepala sekolah lambat-lambat.

“Bukan.Mereka tidak menikah dan tidak mungkin bisa menikah karena mereka adalah kakak adik.Yang saya benarkan tadi adalah bahwa mereka tinggal serumah.”kata Ferry tenang.

“Pak Eric dan Sheila kakak adik?Mana mungkin?Di catatan saya Sheila itu anak sulung.”kata kepala sekolah.

“Mereka lain ibu.Kalau anda tidak percaya, saya bisa memanggil kedua orangtua mereka ke sini secara khusus untuk membuktikannya.”kata Ferry.

“Itu tidak benar, pak.Mereka bersandiwara.”kata Bu Gita.

“Apa anda punya bukti kalau kami bersandiwara, Bu Gita?”tanya Ferry.

Bu Gita membuka mulut, berusaha membalas.Tapi kemudian dia menutup mulutnya lagi.

“Jadi, bagaimana, pak?”tanya Fitri takut-takut.

“Yah, bapak percaya pada kalian.Tapi belum 100 %.Bapak harus memastikan ini semua dulu pada orangtua mereka.”kata kepala sekolah.

“Lalu Sheila…”

“Suruh dia kemari setelah ini.”potong kepala sekolah.

Sekarang Fitri dan Ruri benar-benar tidak bisa menahan kegembiraannya.Mereka melonjak-lonjak gembira.Kepala sekolah tersenyum melihatnya.Bu Gita merengut marah.

“Oh ya, Bu Gita.Anda boleh pulang sekarang.Besok saya akan mengirim surat pemecatan anda langsung ke rumah anda.”kata kepala sekolah.

ííí

“Dengan ini, diputuskan bahwa saudara Eric Gutama dan saudari Marsheila Avrianita resmi bercerai.”hakim mengetok palunya.

Suasana ruang sidang hening sesaat, lalu orang-orang mulai beranjak dari kursinya dan meninggalkan ruang sidang.Eric meninggalkan ruang sidang dengan terburu-buru.Kepalanya tertunduk.Orangtuanya menghampiri Sheila.

“Nak Sheila, terima kasih ya sudah menemani Eric selama ini.”kata ibu Eric dengan mata berkaca-kaca.

“Sayalah yang harus berterima kasih, bu…eh..tante.”kata Sheila.

“Panggil ibu juga tidak apa-apa kok.Kami tetap menganggapmu sebagai anak kami.”kata ibu Eric lembut.

Sheila memeluk mantan ibu mertuanya itu erat.Matanya berkaca-kaca.

“Kami pergi dulu ya, nak Sheila.”kata ibu Eric setelah Sheila melepaskan pelukannya.

“Jaga dirimu baik-baik.”kata ayah Eric sambil menepuk pundak Sheila pelan.Lalu mereka berlalu meninggalkan kehampaan yang dalam di hati Sheila.

Tanpa terasa air matanya mengalir deras.Ayah dan ibunya memeluknya.

“Kami harap kamu sudah memikirkan semua ini baik-baik.”kata ayahnya.

“Kalau kamu menyesal, mungkin kita masih bisa….”

“Tidak, Sheila tidak akan menyesal.Ini sudah keputusan Sheila.”kata Sheila tegas.Tapi sayangnya hatinya tidak bisa setegas ucapannya.

“Ayo kita pulang.”kata ibunya lembut.Sheila mengangguk.

Dengan ayah dan ibunya di sampingnya, Sheila berjalan pelan menuju parkiran.Ada sesuatu yang menyakitkan hatinya ketika dilihatnya mobil Eric sudah tidak ada di parkiran.Lalu sesuatu mengalihkan perhatiannya.Fitri dan Ruri yang baru keluar dari taksi dan berlari-lari menghampirinya.

“Hai.Gue kira lo semua nggak bakalan dateng.”kata Sheila sambil tersenyum.

“Apa sidangnya udah selesai?”tanya Ruri sambil ngos-ngosan.”Apa lo bener-bener bercerai ama….”

“Iya, gue udah bercerai.”potong Sheila.

“Aduh, Shel, lo kok buru-buru amat sih.Dengerin ya.Yang ngambil foto itu Bu Gita, bukan Eric.”kata Fitri cepat-cepat.

“Dan yang manipulasi foto itu juga Bu Gita.”timpal Ruri.

“Dan lo nggak jadi dikeluarin.”kata Fitri dan Ruri bersamaan.

Sheila terperangah tidak percaya, “Nggak mungkin.Lo semua boong kan?”

“Ngapain kita boongin lo?”kata Fitri.

“Jadi bukan Eric yang…”Sheila merasa penyesalan merasuki hatinya.Air matanya mulai mengalir lagi.

“Sheila, temuilah Eric.Mungkin kalian bisa rujuk lagi.”kata ibunya lembut.

“Tidak mungkin bisa, bu.Sekarang dia pasti membenciku.”kata Sheila sambil terisak menyesali kebodohannya.

ííí

Sheila keluar dari taksi bersama kedua sahabatnya dan buru-buru memasuki rumahnya yang ditinggalinya bersama Eric.

“Ntar gue harus bilang apa?”tanya Sheila gugup.

“Ya bilang lo nyesel dong.”kata Fitri.

“Tapi kalo dia nggak mau maafin gue….”

“Itu risiko.”potong Ruri.

Sheila menarik napas dalam dan mulai mengetuk pintu kamar Eric.Tidak ada sahutan.Sheila mengetuknya lagi, lagi, dan lagi.Tapi tetap tidak ada sahutan.Akhirnya Sheila memberanikan diri membukanya.Kosong.Eric tidak ada di kamarnya dan juga di kamar mandi.Bahkan seprai dan gorden di kamarnya sudah dilepas.

“Lho, non Sheila ya.”

Sheila menoleh dan dilihatnya Bi Inah berdiri di depan pintu kamar Eric.Sheila langsung menyerbu Bi Inah, “Tuan Eric mana, bi?”

“Tuan Eric baru aja pergi non.”kata Bi Inah.

“Kemana?”tanya Sheila.

“Ya ke bandara dong, non.Masa’ non nggak diberitahu kalau tuan Eric mau ke Amrik?”kata Bi Inah membuat Sheila merasa seperti disambar petir.

“Kapan berangkatnya, bi?”tanya Fitri.

“Sejam yang lalu, non.”jawab bi Inah.

“Ayo.”Fitri menarik tangan Sheila keluar kamar diikuti oleh Ruri.

“Kita mau kemana?”tanya Sheila.

“Ya ke bandara dong.”kata Fitri sambil membuka pintu mobilnya.

“Tapi pasti udah telat kan?”kata Sheila.

“Shel, lo sayang dia nggak sih?”tanya Ruri sambil naik ke mobil.

“Gue…gue…gue sayang banget ama dia.”jawab Sheila mantap.

“Nah, kalo gitu tunggu apa lagi.Come on let’s go.”kata Fitri dari kursi depan.Sheila pun langsung naik ke mobil.

Perjalanan ke bandara Juanda tidak memakan waktu yang sedikit.Apalagi saat itu sedang jam kerja, jadi hampir semua jalanan macet total.Sheila mulai pesimis kalau mereka akan sampai tepat pada waktunya.

“Tenang aja deh, Shel.Kita pasti tepat waktu.”kata Ruri menenangkan.

Sheila mengangguk lalu berdoa dalam hati agar dia masih diberi kesempatan untuk bisa meminta maaf pada Eric.

Mereka sampai di bandara Juanda 1 jam kemudian.Sheila dan Ruri langsung turun dari mobil sementara Fitri memarkirkan mobilnya.Mereka berlari-lari di dalam bandara, mencari-cari.

“Aduh, dia dimana sih?”Sheila kebingungan.

“Gimana kalo kita umumin aja di bagian informasi?Dia pasti bakal denger.”usul Ruri.

Tapi ternyata mereka tidak perlu repot-repot ke bagian informasi karena saat itu Sheila melihat orangtua Eric keluar dari bagian keberangkatan.Dengan jantung berdegup kencang, Sheila menghampiri mereka.

“Eh, nak Sheila.Kok ada di sini?”tanya ibu Eric sedikit kaget.

“Eric mana, bu?”tanya Sheila to the point.

“Mmm…Eric sudah berangkat, nak Sheila.”jawab ibu Eric berat.

Sheila langsung terpaku di tempatnya.Rasanya dia ingin menangis, tapi tidak bisa.Dia cuma bisa terperangah.

“Shel, kita pulang yuk.”ajak Ruri lembut.

Bagaikan robot, Sheila ikut saja ketika Ruri memapahnya pergi.

“Tunggu, nak Sheila.”cegah ibu Eric.Sheila menoleh dengan tatapan mata kosong.

“Ini.”ibu Eric menyodorkan sepucuk surat.Sheila menerimanya dengan tangan bergetar.

“Eric menitipkannya pada kami.”kata ayah Eric.”Dia juga bilang kalau ayahmu boleh tetap bekerja di perusahaannya.”

Sheila mengucapkan terima kasih dengan pelan, lalu berlalu pergi.

ííí

Di mobil, Sheila terus melamun tanpa air mata keluar dari matanya.Rupanya dia terlalu sedih sehingga tidak bisa menangis.

“Shel, lo nggak pa-pa kan?”tanya Ruri pelan.Jelas itu pertanyaan bodoh.Tidak mungkin Sheila tidak apa-apa.Tapi karena tidak ingin membuat kedua sahabatnya khawatir, Sheila menjawab sambil tersenyum, “Gue nggak pa-pa kok, Ri.Gue baik-baik aja.”

Ruri masih memandang Sheila dengan khawatir.Sheila memutuskan untuk berhenti termenung dan membaca surat yang ditinggalkan Eric untuknya walaupun dia belum siap membacanya.

Dear Sheila…

Apa kabar?Sudah beberapa hari ini kita tidak bicara.Jujur saja, aku merasa agak kesepian.Rasanya hatiku hampa ketika kamu meninggalkan rumah kita.Tapi aku nggak bisa bilang apa-apa kan?Kamu berhak untuk menentukan hidupmu sendiri.

Aku masih ingat jelas ketika aku pertama kali melihatmu di foto yang ada di ruangan ayahmu.Aku benar-benar langsung jatuh cinta padamu saat itu.Aku benar-benar ingin memilikimu.Karena itulah aku ingin sekali kamu menikah denganku dengan harapan seiring dengan waktu, kamu bisa jatuh cinta padaku dan menerimaku utuh sebagai suamimu.

Tapi hari ini aku menyadari kalau selama ini semua percuma saja.Aku tidak bisa meluluhkan hatimu.Hatimu tertutup untukku.Dan kini aku menyerah.Aku memutuskan untuk melanjutkan sekolah di luar negeri tanpa memberitahumu.

Tapi aku masih berharap suatu hari nanti kita akan bertemu lagi dan pada saat itu aku ingin mmelihatmu bahagia bersama pilihanmu.

With Love

ERIC

Tanpa terasa air mata Sheila menetes.Dia menyesal karena sudah melepaskan begitu saja orang yang begitu menyayanginya.