Ririn mengerang kesakitan sambil memegang perutnya yang mulesnya minta ampun. Rasanya pingin mati, tetapi Ririn jelas tidak mau mati hari ini karena hari ini adalah hari yang sangat bersejarah baginya.
Ririn memutuskan untuk berputar-putar, tetapi perutnya tetap saja sakit. Lalu dia melompat-lompat kecil, tetapi ini malah menambah penderitaannya. Akhirnya Ririn bersandar di pintu kamar mandi berharap penderitaannya sedikit berkurang, tetapi gedoran-gedoran di pintu membuat perutnya semakin mulas.
“Woi…gantian dong kamar mandinya.”seru seseorang dari luar kamar mandi disertai gedoran-gedoran yang terdengar semakin keras.
“Bentar.”sahut Ririn jengkel. Dasar nggak tahu penderitaan orang, batinnya.
Rasanya Ririn mau menangis.Kenapa semua ini terjadi di kencan pertamanya?batinnya sedih.Padahal hari ini untuk pertama kalinya Eka mengajaknya nonton, tetapi Ririn malah mendekam di kamar mandi. Di tengah rasa mulesnya, Ririn mengenang hari sewaktu Eka mengajaknya.
“Rin, mau nggak besok Minggu nonton Alien VS Predator di TP?”ajak Eka waktu itu. Ririn melongo.Eka, cowok idola di sekolahnya, mengajaknya nonton?
“Ah…kamu bercanda ya, Ka?”Ririn berusaha tenang, tetapi jelas sekali dia gelagapan.
“Emang bercanda.”kata Eka membuat Ririn gondok setengah mati.Eka tertawa terbahak-bahak ketika Ririn manyun, lalu berkata,”Nggak kok. Ya beneranlah.Ngapain juga boong. Kamu mau nggak?”
Ririn merasa mukanya memerah saat itu. Tetapi dasar Ririn, padahal dia mau tapi masih aja sok nggak mau.Dia baru mengiyakan ajakan Eka 2 hari kemudian.
Seminggu sebelum hari h, Ririn hunting baju ke semua butik yang ada di Surabaya. 5 hari sebelumnya, Ririn pergi ke salon sampai harus antri 8 jam.Dan 2 hari sebelumnya, Ririn nggak makan seharian biar agak kurusan dikit.
Tetapi walaupun sudah menyiapkan segalanya, sewaktu hari h Ririn kebingungan juga. Ditambah lagi perutnya agak mulas. Ririn tidak begitu menghiraukannya dan menganggapnya akan hilang nantinya.
Setelah siap, Ririn menunggu didepan rumahnya. 1 jam berlalu, Eka belum juga datang. 2 jam, 3 jam, Ririn mulai kesal. Dandanannya sudah luntur semua. Akhirnya Eka pun datang ditemani BMW biru metalik. Ririn menyambutnya dengan cemberut.
“Sori, aku ketiduran.”kata Eka simpel. Rasanya Ririn ingin marah, tetapi senyum Eka meluluhkan hatinya.
Hari yang ditunggu-tunggu Ririn setelah sekian lama pun dimulai.
Pertama, Eka mengajak Ririn nonton. Selama di bioskop, mereka kebanyakan diam dan memusatkan perhatian pada film. Ririn berulangkali mencuri pandang pada Eka, tetapi pandangan Eka terus lurus kedepan seakan Ririn tidak ada di sebelahnya. Ririn sedikit kesal juga karena tidak dianggap.
Selesai nonton, Eka mengajak Ririn ke Starbucks. Disana Eka mulai sering memandangnya. Ririn jadi salting. Tetapi tiba-tiba perutnya terasa mules lagi. Kali ini lebih parah dari tadi pagi.
“Rin, aku mo ngomong tapi kamu jangan marah ya.”
Eka memandangnya lekat. Ririn berusaha menyembunyikan sakit perutnya dan tersenyum pada Eka.
“Sebenernya…”
Ririn meringis sedikit.
“Sebenernya aku…”
Kali ini sudah tak tertahankan lagi. Ririn beranjak sebelum Eka sempat menyelesaikan kata-katanya.”Sori Ka, aku ke belakang dulu.”
“Oh…silakan.”kata Eka.
Setelah beberapa menit, Ririn kembali. Eka tidak melanjutkan kata-katanya dan malah asyik menyeruput blueberrynya. 1 jam kemudian, Eka baru memulai pembicaraan lagi.
“Mmm..Rin, yang tadi kulanjutin lagi ya.”kata Eka. Ririn mengangguk dengan jantung yang tak juga berhenti berdegup. Dan rasa mulas itu kembali menyerang.
“Rin, aku…”
“Sori Ka, aku mo ke belakang lagi.”potong Ririn sambil buru-buru ke kamar mandi.
Kejadian itu terus berulang sejam sekali. Ini yang kesepuluh kalinya Ririn mendekam di kamar mandi. Kali ini lebih lama dari yang tadi-tadi.
“Woi…cepetan dong.Emang ini kamar mandi mbahmu?”kembali terdengar seruan dari luar pintu. Walaupun perutnya masih sakit, Ririn memutuskan untuk keluar. Seorang cewek berdandan menor langsung masuk begitu Ririn keluar.
Setelah membenahi dandanannya di cermin wastafel, Ririn kembali ke mejanya. Eka memandangnya dengan pandangan menusuk.”Kenapa sih setiap aku mo ngomong kamu mesti langsung ke kamar mandi?”tanyanya curiga.
“Bukannya gitu. Aku bener-bener nggak tahan.”kata Ririn kebingungan.
“Yach..kayaknya hari ini mungkin seharusnya nggak ada.Ayo kuanter pulang.”Eka beranjak dari tempat duduknya dan berjalan keluar Starbucks.
Air mata Ririn menetes tanpa sadar. Dia bertahan duduk di tempat duduknya dan membiarkan Eka pergi. Eka terus berjalan, tetapi ketika dia melihat Ririn tidak ada dibelakangnya dia pun kembali lagi. Eka melihat Ririn menangis dan hatinya pun luluh.Dia bergegas menghampiri Ririn dan spontan memeluknya. Ririn terperangah.
“Maafin aku ya, Rin. Aku jadi ngelampiasin kemarahanku ke kamu padahal kamu nggak salah apa-apa. “kata Eka.”Aku kesal karena nggak juga bisa nyampein gimana perasaanku ke kamu.”
Eka melepaskan pelukannya dan memandang Ririn lekat. Wajah Ririn memerah ditambah lagi kini pandangan seluruh pengunjung Starbucks terarah kepada mereka.
“Rin, sebenernya aku suka ama kamu dari dulu. Kamu mau nggak jadi pacarku?”Eka berkata cepat sekali seakan takut lupa mengatakannya kalau tidak cepat-cepat dikatakan.
Sekarang wajah Ririn sudah seperti kepiting yang kelamaan direbus. Hatinya seperti dipenuhi bunga-bunga. Ririn terdiam sejenak sambil menatap Eka tajam, mencari kesungguhan di matanya. Eka dan semua pengunjung Starbucks menunggu jawaban Ririn.
“Ka, sebenernya aku…”
Dutttttttt……………..
Kontan semua pengunjung Starbucks menutup hidung. Ririn bukan main malunya dan rasanya dia ingin tenggelam kedalam bumi. Kenapa dia kentut di saat-saat seperti ini?Eka tersenyum menenangkan.”Nggak pa-pa kok. Sana ke kamar mandi dulu. Kutungguin kok.”
Tanpa ba bi bu lagi Ririn langsung ke kamar mandi. Kencan pertama ini memang tidak akan pernah terlupakan olehnya seumur hidupnya.