Agustus 2007


Yah..sebenernya ip-ku ga jelek2 amat sih.Malah bisa dibilang naik walau cuma dikit.Dari 2,89 jadi 2,9 itu naik kan?Hehe…sama aja sih sebenernya…

Yang bikin aku nyesel tuh nilai matdis en kalkulusku itu.Lagi2 kalkulus dapet C (C untuk Cantik :p).Matdis ikut2an dapet C lagi.Mana matdis itu kan 4 sks.Jadinya yang dapet C ada 7 sks.Hiks…

Ya pokoknya semester 3 ini mesti en kudu belajar lebih keras-lah.Semangat!!!!

Ririn mengerang kesakitan sambil memegang perutnya yang mulesnya minta ampun. Rasanya pingin mati, tetapi Ririn jelas tidak mau mati hari ini karena hari ini adalah hari yang sangat bersejarah baginya.

Ririn memutuskan untuk berputar-putar, tetapi perutnya tetap saja sakit. Lalu dia melompat-lompat kecil, tetapi ini malah menambah penderitaannya. Akhirnya Ririn bersandar di pintu kamar mandi berharap penderitaannya sedikit berkurang, tetapi gedoran-gedoran di pintu membuat perutnya semakin mulas.

“Woi…gantian dong kamar mandinya.”seru seseorang dari luar kamar mandi disertai gedoran-gedoran yang terdengar semakin keras.

“Bentar.”sahut Ririn jengkel. Dasar nggak tahu penderitaan orang, batinnya.

Rasanya Ririn mau menangis.Kenapa semua ini terjadi di kencan pertamanya?batinnya sedih.Padahal hari ini untuk pertama kalinya Eka mengajaknya nonton, tetapi Ririn malah mendekam di kamar mandi. Di tengah rasa mulesnya, Ririn mengenang hari sewaktu Eka mengajaknya.

“Rin, mau nggak besok Minggu nonton Alien VS Predator di TP?”ajak Eka waktu itu. Ririn melongo.Eka, cowok idola di sekolahnya, mengajaknya nonton?

“Ah…kamu bercanda ya, Ka?”Ririn berusaha tenang, tetapi jelas sekali dia gelagapan.

“Emang bercanda.”kata Eka membuat Ririn gondok setengah mati.Eka tertawa terbahak-bahak ketika Ririn manyun, lalu berkata,”Nggak kok. Ya beneranlah.Ngapain juga boong. Kamu mau nggak?”

Ririn merasa mukanya memerah saat itu. Tetapi dasar Ririn, padahal dia mau tapi masih aja sok nggak mau.Dia baru mengiyakan ajakan Eka 2 hari kemudian.

Seminggu sebelum hari h, Ririn hunting baju ke semua butik yang ada di Surabaya. 5 hari sebelumnya, Ririn pergi ke salon sampai harus antri 8 jam.Dan 2 hari sebelumnya, Ririn nggak makan seharian biar agak kurusan dikit.

Tetapi walaupun sudah menyiapkan segalanya, sewaktu hari h Ririn kebingungan juga. Ditambah lagi perutnya agak mulas. Ririn tidak begitu menghiraukannya dan menganggapnya akan hilang nantinya.

Setelah siap, Ririn menunggu didepan rumahnya. 1 jam berlalu, Eka belum juga datang. 2 jam, 3 jam, Ririn mulai kesal. Dandanannya sudah luntur semua. Akhirnya Eka pun datang ditemani BMW biru metalik. Ririn menyambutnya dengan cemberut.

“Sori, aku ketiduran.”kata Eka simpel. Rasanya Ririn ingin marah, tetapi senyum Eka meluluhkan hatinya.

Hari yang ditunggu-tunggu Ririn setelah sekian lama pun dimulai.

Pertama, Eka mengajak Ririn nonton. Selama di bioskop, mereka kebanyakan diam dan memusatkan perhatian pada film. Ririn berulangkali mencuri pandang pada Eka, tetapi pandangan Eka terus lurus kedepan seakan Ririn tidak ada di sebelahnya. Ririn sedikit kesal juga karena tidak dianggap.

Selesai nonton, Eka mengajak Ririn ke Starbucks. Disana Eka mulai sering memandangnya. Ririn jadi salting. Tetapi tiba-tiba perutnya terasa mules lagi. Kali ini lebih parah dari tadi pagi.

“Rin, aku mo ngomong tapi kamu jangan marah ya.”

Eka memandangnya lekat. Ririn berusaha menyembunyikan sakit perutnya dan tersenyum pada Eka.

“Sebenernya…”

Ririn meringis sedikit.

“Sebenernya aku…”

Kali ini sudah tak tertahankan lagi. Ririn beranjak sebelum Eka sempat menyelesaikan kata-katanya.”Sori Ka, aku ke belakang dulu.”

“Oh…silakan.”kata Eka.

Setelah beberapa menit, Ririn kembali. Eka tidak melanjutkan kata-katanya dan malah asyik menyeruput blueberrynya. 1 jam kemudian, Eka baru memulai pembicaraan lagi.

“Mmm..Rin, yang tadi kulanjutin lagi ya.”kata Eka. Ririn mengangguk dengan jantung yang tak juga berhenti berdegup. Dan rasa mulas itu kembali menyerang.

“Rin, aku…”

“Sori Ka, aku mo ke belakang lagi.”potong Ririn sambil buru-buru ke kamar mandi.

Kejadian itu terus berulang sejam sekali. Ini yang kesepuluh kalinya Ririn mendekam di kamar mandi. Kali ini lebih lama dari yang tadi-tadi.

“Woi…cepetan dong.Emang ini kamar mandi mbahmu?”kembali terdengar seruan dari luar pintu. Walaupun perutnya masih sakit, Ririn memutuskan untuk keluar. Seorang cewek berdandan menor langsung masuk begitu Ririn keluar.

Setelah membenahi dandanannya di cermin wastafel, Ririn kembali ke mejanya. Eka memandangnya dengan pandangan menusuk.”Kenapa sih setiap aku mo ngomong kamu mesti langsung ke kamar mandi?”tanyanya curiga.

“Bukannya gitu. Aku bener-bener nggak tahan.”kata Ririn kebingungan.

“Yach..kayaknya hari ini mungkin seharusnya nggak ada.Ayo kuanter pulang.”Eka beranjak dari tempat duduknya dan berjalan keluar Starbucks.

Air mata Ririn menetes tanpa sadar. Dia bertahan duduk di tempat duduknya dan membiarkan Eka pergi. Eka terus berjalan, tetapi ketika dia melihat Ririn tidak ada dibelakangnya dia pun kembali lagi. Eka melihat Ririn menangis dan hatinya pun luluh.Dia bergegas menghampiri Ririn dan spontan memeluknya. Ririn terperangah.

“Maafin aku ya, Rin. Aku jadi ngelampiasin kemarahanku ke kamu padahal kamu nggak salah apa-apa. “kata Eka.”Aku kesal karena nggak juga bisa nyampein gimana perasaanku ke kamu.”

Eka melepaskan pelukannya dan memandang Ririn lekat. Wajah Ririn memerah ditambah lagi kini pandangan seluruh pengunjung Starbucks terarah kepada mereka.

“Rin, sebenernya aku suka ama kamu dari dulu. Kamu mau nggak jadi pacarku?”Eka berkata cepat sekali seakan takut lupa mengatakannya kalau tidak cepat-cepat dikatakan.

Sekarang wajah Ririn sudah seperti kepiting yang kelamaan direbus. Hatinya seperti dipenuhi bunga-bunga. Ririn terdiam sejenak sambil menatap Eka tajam, mencari kesungguhan di matanya. Eka dan semua pengunjung Starbucks menunggu jawaban Ririn.

“Ka, sebenernya aku…”

Dutttttttt……………..

Kontan semua pengunjung Starbucks menutup hidung. Ririn bukan main malunya dan rasanya dia ingin tenggelam kedalam bumi. Kenapa dia kentut di saat-saat seperti ini?Eka tersenyum menenangkan.”Nggak pa-pa kok. Sana ke kamar mandi dulu. Kutungguin kok.”

Tanpa ba bi bu lagi Ririn langsung ke kamar mandi. Kencan pertama ini memang tidak akan pernah terlupakan olehnya seumur hidupnya.

Dear my diary…

Dari dulu aku selalu memimpikan punya pacar yang cakep, baik, keren, pintar, atletis, perhatian, pengertian, dll sewaktu masuk SMA nanti. Sebenarnya impianku itu tidak terlalu muluk kan? Semua cewek pasti menginginkan cowok seperti itu.

Tapi impian itu hancur seketika malam itu.

“Sheila, perusahaan ayahmu di ambang kehancuran.Ayahmu sudah tidak bisa lagi berbuat apa-apa untuk menyelamatkannya, kecuali menjualnya.”

“Tapi masalahnya tidak ada yang mau membeli perusahaan ayah karena banyak sekali utang yang ditanggung perusahaan ayah.”

“Kalau tidak ada yang membeli perusahaan ayahmu maka semua harta kita akan diambil alih oleh bank untuk menutupi utang.”

Waktu itu ayah dan ibu berkata hampir bersamaan dan menatapku seakan hanya aku yang bisa menyelesaikan masalah itu.Tapi apa yang bisa kuperbuat? Aku baru lulus SMP dan aku tidak mengerti sama sekali soal keuangan perusahaan.

“Apa sudah separah itu?”tanya Sheila.

Orangtuanya mengangguk berbarengan.

“Dan yang kami takutkan lagi, kamu tidak bisa melanjutkan sekolahmu ke SMA.”

Mendengar kata-kata ibu, bayanganku tentang masa-masa indah di SMA langsung hancur lebur.Waktu itu aku langsung membayangkan diriku yang memakai baju compang-camping dan meminta-minta di depan sebuah SMA.

“Sebenarnya ada 1 orang yang mau membeli perusahaan ayah dengan harga tinggi.Namanya Eric Gutama.Dia memiliki 30 hotel dan 103 restoran yang tersebar di seluruh Indonesia.”

“Lalu, kenapa tidak cepat ayah jual saja perusahaan ayah padanya?”tanya Sheila tidak habis pikir.

“Masalahnya, dia mengajukan 1 syarat yang sangat sulit.”

Syarat, aku paling benci mendengar kata itu, karena kata itu identik dengan sesuatu yang buruk. Dan ternyata memang benar.

“Dia ingin menikahimu.”

Dan kisahku pun dimulai. (lagi…)

Sepi, itulah yang Adi rasakan kini. Padahal saat ini Adi berada di tengah keramaian Timezone. Tetapi sepi itu terus saja menggelayutinya, membawanya ke dalam sebuah dunia yang kelam dimana hanya ada dia seorang disana.

“Di, kok diem aja sih?”sebuah suara mengembalikannya ke alam nyata. Dilihatnya Sisi, pacarnya, menatapnya penuh tanya.

“Nggak pa-pa kok, Si.”jawab Adi singkat.

“Hayo, ngelamunin apa?”tanya Sisi.

“Enggak. Nggak ada yang kulamunin.”kata Adi enggan seakan ingin bilang kalau dia sedang tidak ingin diganggu.

“Kalo gitu ayo kita tanding basket.”ajak Sisi.

“Ummm…”belum sempat Adi mengelak, Sisi sudah duluan menarik tangannya ke arena permainan basket.

Adi merasakan desir aneh ketika melihat arena permainan basket yang ada didepannya. Ringnya, bola-bolanya sangat akrab di dalam benaknya dan juga seorang gadis berambut sebahu yang sedang melempar bola-bola itu kedalam ring. Tetapi tepukan Sisi di pundaknya membuat bayangan-bayangan samar dalam benaknya itu hilang. (lagi…)

Hari ini lagi-lagi Ferry melihat wanita tua itu duduk termangu di meja di sudut cafe. Pandangannya terus menerawang jauh keluar jendela tanpa terusik sedikitpun dengan keramaian cafe. Dia hanya beralih ketika ada yang memasuki cafe, tetapi kemudian langsung berpaling dan kembali memandang jendela. Itulah yang dilakukannya setiap hari di cafe ini.

Ferry meletakkan secangkir kopi yang entah sudah keberapa ke atas baki dan dengan hati-hati membawanya ke meja wanita tua itu.

“Maaf Bu, ini kopi pesanan Anda.”kata Ferry ramah pada wanita tua itu. Wanita tua itu tampak agak sedikit kaget dan memandang Ferry sejenak kemudian mengangguk dan kembali berpaling keluar jendela seakan Ferry hanya lalat usil yang lewat. Ferry pun membungkuk sekilas dan kembali ke bagian belakang cafe.

Wanita tua itu menghirup kopinya dan memandang selembar foto yang sedari tadi digenggamnya. Dia memandang dirinya sendiri disana sedang tersenyum manis disamping seorang pria tampan yang juga tersenyum. Tetapi belum ada uban di rambut wanita muda dalam foto itu dan juga masih ada senyum bahagia di wajah wanita itu yang kini tidak lagi menghiasi wajahnya yang sudah keriput serta masih ada seorang kekasih disampingnya yang kini pergi entah kemana.

Pikiran wanita tua itu menerawang kembali ke masa 58 tahun silam di cafe itu.

Hari itu hujan turun dengan derasnya. Seorang gadis berteduh didepan sebuah rumah minum. Rambut hitamnya yang indah terurai basah di punggungnya. Dia masih berumur 14 tahun dan belum mengerti apa arti cinta. Sampai seorang pria muda ikut berteduh dengannya di bawah naungan rumah minum itu.

Pria itu sangat tampan dan mempesona. Dan sepertinya pria itu pun berpikiran sama. Dia memandang gadis itu lekat. Si gadis yang masih lugu hanya bisa menunduk.Tetapi rupanya mereka belum diijinkan untuk berpisah karena hujan masih terus turun dengan deras. Dan akhirnya setelah lama waktu terlewati dalam kebisuan, pria itu angkat bicara,”Bagaimana kalau kita masuk kedalam?”

Si gadis menatap pria itu curiga. Pria itu tersenyum dan berkata,”Aku bukan orang jahat.”. Tetapi gadis itu tetap bergeming di tempatnya. Pria itu menatap si gadis sejenak dengan matanya yang tajam sebelum kemudian mendongak menatap hujan yang terus turun dengan derasnya. Si gadis diam-diam meliriknya, mengagumi betapa mempesonanya pria itu. Wajahnya memerah ketika tiba-tiba pria itu berpaling kepadanya.

“Rumah minum ini namanya O&X. Belanda yang mendirikannya. Aku sering kesini karena nama dan tempatnya yang unik.”pria itu bercerita sambil memandang rumah minum itu. Si gadis ikut-ikutan memandang rumah minum itu juga.”Kenapa dinamai O&X?”tanpa sadar si gadis bertanya. Pria itu mengangkat bahu,”Entahlah.”katanya.

“Jadi, apa kau kau tertarik melihat-lihat kedalam?”tanya pria itu. Si gadis menimbang-nimbang sejenak, kemudian mengangguk.

Bagian dalam rumah minum itu sangat kentara nuansa Eropanya. Suasananya nyaman. Pria dan gadis itu duduk di salah satu meja dan langsung terlibat pembicaraan diselingi tawa hangat. Walaupun hujan telah reda, mereka tetap bergeming seakan lupa tujuan semula masing-masing.

“Besok, lusa, dan seterusnya, apa bisa kita bertemu lagi di tempat ini?”tanya pria itu penuh harap. Si gadis menjawab,”Iya.”

Dan esoknya, lusa, dan seterusnya gadis dan pria itu bertemu di rumah minum itu. Gadis itu pun mulai menyadari bahwa dia telah jatuh cinta. Namun ketika dia sadar sepenuhnya, dia harus menerima kenyataan pahit.

Hari ke-50 seperti biasa si gadis menunggu didepan rumah minum dengan kerinduan yang sangat. 1 jam berlalu, 2 jam berlalu, 3 jam, 4 jam, 5 jam, pria itu tak kunjung datang. Akhirnya 10 jam berlalu dan pria itu tak datang.

Tetapi gadis itu terus menanti esoknya, lusa, dan seterusnya sampai rambutnya beruban kini.

“Maaf bu, cafe sudah mau tutup.”

Wanita tua itu terperanjat dan melihat Ferry ada di sebelahnya.”Oh…ini bayaran kopi-kopi yang tadi.”wanita tua itu meletakkan setumpuk uang di meja dan memandang jendela sejenak sebelum akhirnya beranjak. Dalam hatinya masih bertanya-tanya dan berharap apa pria itu masih ingat dengan janji mereka 58 tahun yang lalu?

Sepeninggal semua pengunjung cafe, Ferry mulai membersihkan meja-meja dan merapikannya. Walaupun dia cuma seorang diri, dia tidak mengeluh karena dia merasa tempat itu sudah menjadi bagian dari dirinya. Ketika dia sedang memmbersihkan meja yang tadi ditempati wanita tua itu, mata Ferry terpaku pada selembar foto yang ada di atas meja. Mungkin punya wanita itu, batin Ferry. Tetapi kemudian dia terperanjat. Didalam foto itu ada ayahnya sewaktu muda. Ayahnya yang sudah meninggal 10 tahun yang lalu.

Halaman Berikutnya »